What's New Here?

Tampilkan postingan dengan label aliran sesat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aliran sesat. Tampilkan semua postingan

Kontroversi Bid’ah Hasanah

Di zaman sekarang, jamak didengar perkataan, “Ini bid’ah, tidak ada di zaman rasul". Efeknya orang sering terkejut ketika mendapatkan pernyataan tersebut. Apalagi yang sedang berusaha giat beribadah, tiba-tiba menerima perkataan seperti itu bisa jadi justru bingung, “Sebenarnya ajaran Islam ini bagaimana? Kok perasaan bid’ah semua.”

Bid’ah secara bahasa berarti sesuatu baru yang tidak ada sebelumnya. Jadi kalau hp sekarang ada dan di zaman Rasul tidak ada, maka ini berarti bid’ah, namun secara bahasa saja. Sedangkan secara pengertian bid’ah merupakan segala hal baru berkaitan dengan ajaran Islam yang belum pernah dilakukan pada Zaman Nabi.

Persoalannya adalah terpecahnya dua golongan dalam pemahaman arti bid’ah. Pertama, golongan yang mengharamkan setiap hal baru dalam agama, seperti dulu tidak ada mimbar, sekarang ada mimbar, berarti bid’ah.

Golongan kedua, golongan yang tidak mempermasalahkan adanya sesuatu yang baru dalam agama asalkan memiliki landasan dalil yang mendasarinya, dan pastinya tidak bertentangan dengan kaidah syara’. Hal ini karena ulama menyadari akan banyak hal baru yang terjadi seiring berjalannya zaman.

Yang menjadi kesepakatan antar ulama adalah bid’ah yang menyangkut persoalan yang sudah jelas keharamannya. Pertama, bid’ah dalam persoalan akidah. Menyembah lewat media pohon atau patung agar Allah mendengar. Kedua, bid’ah dalam persoalan perubahan ibadah yang sudah jelas syari’atnya, menambah jumlah rakaat shalat. Ketiga, mengubah waktu atau tempat ibadah yang sudah ditentukan, seperti haji di bulan syawwal. Keempat, setiap hal baru yang tidak memiliki pijakan dalilnya. Seperti puasa harus sepuluh hari tanpa minum dan makan.

Namun demikian, bila diperhatikan, persoalan yang menyangkut perdebatan bid’ah, umumnya adalah persoalan yang berupa amalan sunnah. Cirinya, kalau ditinggalkan tidak menjadi dosa. Contoh tahlil, kalau ditinggalkan orang tidak berdosa. Contoh lain semacam tarawih 24 rakaat (waktu zaman rasul 8), ditinggalkan tidak mendapat dosa.

Sehingga bid’ah yang seringkali menjadi perdebatan adalah dalam lingkup kontroversi bid’ah hasanah, dalam hal ini ada dua golongan. Pertama, yang menyatakan bahwa kalau tidak dilakukan rasul berarti bid’ah. Kedua, selama masih ada dalilnya maka disebut bid’ah hasanah. Padahal ketika dikerjakan hanya akan mendapatkan pahala banyak, ditinggalkan tidak mendapatkan apa-apa.

Sayangnya banyak yang tidak menyadari bahwa perdebatan ini tidak pernah ada akhir. Alasannya sederhana, amalan yang sunnah dan makruh saja antara ulama memiliki perbedaan. Apalagi dalam persoalan bid’ah hasanah, tidak akan jauh berbeda. Yang perlu di garis bawahi, hal ini berkaitan dengan amalan dalam usaha meraih pahala, maka ini usaha yang wajar.

Contoh di zaman Rasul, disebutkan dalam riwayat bukhari dan muslim Rasulullah pernah mengutus seseorang untuk memimpin sariyyah (pasukan perang). Anehnya setiap kali sholat, pemimpin tersebut selalu menutup tiap surat al Qur’an yang dibaca dengan surat al ikhlas. Seperti membaca dua surat selain al fatihah. Harus diingat, rukun shalat dalam membaca surat al qur’an hanya al fatihah. 

Maka dengan kejadian ini banyak yang mengadu ke Rasul. Jawaban rasul cukup bijak, “Tanyailah dulu orang tadi kenapa dia melakukan ritual seperti itu.”

Pengamal tersebut menjawab, “Akau melakukan hal itu karena memang surat al Ikhlas ini mengandung keterangan tentang sifat Allah yang maha pengasih, sehingga aku suka membacanya.”

Setelah itu Rasulullah bersabda, “Beritahu dia bahwa Allah mencintainya”.

Lebih arif jika kita bertanya dulu seperti yang rasul lakukan. Kecuali bid’ah yang dilakukan mendekati kesyirikan, maka hal tersebut yang harus diingatkan.

rujukan: Heri Mahfudzi, Lc, Kontroversi Bid'ah

Kontroversi Bid’ah Hasanah

Posted by Dastan No comments

Di zaman sekarang, jamak didengar perkataan, “Ini bid’ah, tidak ada di zaman rasul". Efeknya orang sering terkejut ketika mendapatkan pernyataan tersebut. Apalagi yang sedang berusaha giat beribadah, tiba-tiba menerima perkataan seperti itu bisa jadi justru bingung, “Sebenarnya ajaran Islam ini bagaimana? Kok perasaan bid’ah semua.”

Bid’ah secara bahasa berarti sesuatu baru yang tidak ada sebelumnya. Jadi kalau hp sekarang ada dan di zaman Rasul tidak ada, maka ini berarti bid’ah, namun secara bahasa saja. Sedangkan secara pengertian bid’ah merupakan segala hal baru berkaitan dengan ajaran Islam yang belum pernah dilakukan pada Zaman Nabi.

Persoalannya adalah terpecahnya dua golongan dalam pemahaman arti bid’ah. Pertama, golongan yang mengharamkan setiap hal baru dalam agama, seperti dulu tidak ada mimbar, sekarang ada mimbar, berarti bid’ah.

Golongan kedua, golongan yang tidak mempermasalahkan adanya sesuatu yang baru dalam agama asalkan memiliki landasan dalil yang mendasarinya, dan pastinya tidak bertentangan dengan kaidah syara’. Hal ini karena ulama menyadari akan banyak hal baru yang terjadi seiring berjalannya zaman.

Yang menjadi kesepakatan antar ulama adalah bid’ah yang menyangkut persoalan yang sudah jelas keharamannya. Pertama, bid’ah dalam persoalan akidah. Menyembah lewat media pohon atau patung agar Allah mendengar. Kedua, bid’ah dalam persoalan perubahan ibadah yang sudah jelas syari’atnya, menambah jumlah rakaat shalat. Ketiga, mengubah waktu atau tempat ibadah yang sudah ditentukan, seperti haji di bulan syawwal. Keempat, setiap hal baru yang tidak memiliki pijakan dalilnya. Seperti puasa harus sepuluh hari tanpa minum dan makan.

Namun demikian, bila diperhatikan, persoalan yang menyangkut perdebatan bid’ah, umumnya adalah persoalan yang berupa amalan sunnah. Cirinya, kalau ditinggalkan tidak menjadi dosa. Contoh tahlil, kalau ditinggalkan orang tidak berdosa. Contoh lain semacam tarawih 24 rakaat (waktu zaman rasul 8), ditinggalkan tidak mendapat dosa.

Sehingga bid’ah yang seringkali menjadi perdebatan adalah dalam lingkup kontroversi bid’ah hasanah, dalam hal ini ada dua golongan. Pertama, yang menyatakan bahwa kalau tidak dilakukan rasul berarti bid’ah. Kedua, selama masih ada dalilnya maka disebut bid’ah hasanah. Padahal ketika dikerjakan hanya akan mendapatkan pahala banyak, ditinggalkan tidak mendapatkan apa-apa.

Sayangnya banyak yang tidak menyadari bahwa perdebatan ini tidak pernah ada akhir. Alasannya sederhana, amalan yang sunnah dan makruh saja antara ulama memiliki perbedaan. Apalagi dalam persoalan bid’ah hasanah, tidak akan jauh berbeda. Yang perlu di garis bawahi, hal ini berkaitan dengan amalan dalam usaha meraih pahala, maka ini usaha yang wajar.

Contoh di zaman Rasul, disebutkan dalam riwayat bukhari dan muslim Rasulullah pernah mengutus seseorang untuk memimpin sariyyah (pasukan perang). Anehnya setiap kali sholat, pemimpin tersebut selalu menutup tiap surat al Qur’an yang dibaca dengan surat al ikhlas. Seperti membaca dua surat selain al fatihah. Harus diingat, rukun shalat dalam membaca surat al qur’an hanya al fatihah. 

Maka dengan kejadian ini banyak yang mengadu ke Rasul. Jawaban rasul cukup bijak, “Tanyailah dulu orang tadi kenapa dia melakukan ritual seperti itu.”

Pengamal tersebut menjawab, “Akau melakukan hal itu karena memang surat al Ikhlas ini mengandung keterangan tentang sifat Allah yang maha pengasih, sehingga aku suka membacanya.”

Setelah itu Rasulullah bersabda, “Beritahu dia bahwa Allah mencintainya”.

Lebih arif jika kita bertanya dulu seperti yang rasul lakukan. Kecuali bid’ah yang dilakukan mendekati kesyirikan, maka hal tersebut yang harus diingatkan.

rujukan: Heri Mahfudzi, Lc, Kontroversi Bid'ah

Mengapa Umat Islam Saling Menyalahkan dan Mengkafirkan?

Di Indonesia muncul sebuah fenomena positif sekaligus negatif bagi umat Islam. Fenomena positif karena semakin banyak muslim yang berlomba untuk kuat-kuatan dalam mempertahankan sunnah rasul, ini sangat luar biasa, karena menjaga sunnah tentu tidak mudah. Fenomena negatif karena justru ketika menemukan seorang muslim yang tidak menjalankan sunnah akan dianggap bukan saudaranya, lebih buruk lagi dikafirkan dari keislamannya. Oleh sebab itu kita harus urai secara arif dua fenomena ini.


Fenomena ini dalam sudut pandang penulis berawal dari gerakan ihya’ sunnah (menghidupkan sunnah). Segala sesuatu yang berhubungan dengan sunnah yang dianjurkan oleh rasul semacam bersiwak dan harus dengan kayu siwak, kemudian dengan berjenggot. Intinya menghidupkan kembali sunah yang sering ditinggalkan, atau sunnah yang diremehkan. Ini adalah gerakan yang sangat baik. 


Tentu saja mereka juga menghidupkan sunnah untuk sesegera mungkin berada di masjid. Kemudian berpuasa senin dan kamis, atau menghidupkan sholat malam.  Namun demikian, mereka akan tampak jelas di hadapan muslim lain karena seringnya penampilan mereka akan terlihat berbeda mengingat yang dihidupkan juga sunnah yang berkaitan dengan cara berpakaian dan penampilan. Dan mereka akan mengamalkannya harus seratus persen sama persis dengan apa yang diamalkan oleh rasul. Kita harus menaruh hormat pada mereka, karena belum banyak orang yang mampu melakukannya.

Uniknya ketika mereka dipandang sebelah mata oleh orang lain, atau terlihat aneh bagi yang lain, dan merasa asing, mereka akan lebih yakin bahwa itulah yang benar-benar dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Dasarnya adalah hadist “Islam ini pada awalnya dianggap aneh dan akan kembali menjadi aneh sebagaimana awalnya dan beruntunglah orang-orang yang dianggap aneh saat itu” (HR. Muslim). Artinya apa yang dilakukan juga mendapatkan justifikasi juga dari hadist.

Masalah besarnya adalah saat kebanggaan untuk mengamalkan hal tersebut justru menimbulkan husnudzon pada pengamalnya bahwa merekalah orang-orang yang paling sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, apalagi sudah mengamalkan benar-benar seratus persen. Sehingga yang terjadi adalah, setiap orang yang ada di luar mereka, atau yang tidak seperti mereka meskipun seorang muslim, dianggap sebagai orang yang rendah dan bukan di golongan mereka.

Inilah yang menjadi satu hal yang kurang berkenan di hati muslim yang lain. Rasa respek kepada mereka dalam hal mengamalkan sunnah yang begitu luar biasa justru mengalahkan akhlaq yang diajarkan oleh rasul untuk menghormati antara satu dengan yang lain. Apalagi rasul juga diutus liutammima makarimal akhlaq, untuk menyempurnakan akhlaq manusia. 

Kalau boleh jujur, faktor utama yang menjadikan Islam berkembang pesat ketika itu adalah akhlaq rasul dan para sahabat yang luar biasa. Mereka memang keras, tapi dalam hal aqidah. “Qul aamantu billah”, katakanlah bahwa aku beriman kepada Allah. Semua sahabat paling keras dalam hal ini, sampai rela dibunuh karena mempertahankan ini. Tapi persoalan hubungan dengan sesama muslim mereka adalah orang-orang yang tidak ada duanya. Bahkan nabi Muhammad mendatangi non muslim yang melemparinya setiap hari dengan kotoran karena tiba-tiba absen tidak melemparinya dengan kotoran. Hati siapa yang tak luluh. Jika kita justru memusuhi sesama muslim, rasanya justru menjadikan Islam melemah dengan permusuhan antar sesama. Prinsipnya jika ada uswah dan orang nyaman di antara kita, mereka pasti akan perlahan-lahan mengikuti kita.

Bahkan lebih fenomenal lagi ketika tidak hanya menyalahkan, namun sampai mengkafirkan sesama muslim. Padahal untuk mengatakan orang lain kafir memiliki kriteria bahwa ia kafir secara niat  karena bertentangan dengan enam rukun iman atau mengingkari ajaran Islam yang “qath’i”. Atau ucapan sebagai bentuk pengakuan penolakan terhadap ajaran Islam. Atau perbuatan, melakukan sesuatu yang benar-benar terindikasi aqidah yang kufur. Di luar ini mereka masih muslim.

Memang hadist tentang keterasingan tadi ada kelanjutannya, “Orang-orang yang tetap berbuat baik dengan sunnahku (mengamalkan sunnahku) sementara manusia merusaknya (meninggalkan sunnah) (HR. Tirmidzi)” maka jika ada ada yang meyakini bahwa berpakaian seperti rasul adalah sunnah rasul yang ingin dihidupkan, maka jangan lupakan sunnah rasul yang menyatakan bahwa diutusnya rasul untuk menyempurnakan akhlaq.  Maka jika ada yang berjubah putih meyakini bahwa itu sunnah rasul dan harus dipakai setiap hari, maka yakini pula sunnah rasul yang menyatakan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.

Seharusnya tuntunan akhlaq rasul seperti saling menghormati, saling menyayangi, bahkan antara satu muslim dengan muslim yang lain seperti bangunan yang saling mengokohkan juga harus dipegang dengan teguh. Sehingga tidak hanya menimbulkan empati karena keteguhan dalam menjalankan sunnah sampai dalam bentuk berpakaian, tapi juga simpati karena akhlaq yang begitu agung.

Saya sampai mendengar cerita ada seseorang yang memang sedang giat menghidupkan sunnah rasul, sangat tampak dari pakaiannya. Selepas salam sholat jum’at ia kemudian langsung melangkah keluar shof yang masih berdzikir dan berdo’a, tanpa terduga kakinya tersangkut di salah satu tubuh jama’ah dan sampai terjatuh. Pasti sudah menjadi pengetahuan umum kita sedikit memohon maaf. Namun orang tersebut tidak, sepertinya jama’ah yang lain bukan dari golongan mereka, dan menjadikan jama’ah tersebut seperti orang asing. Pada akhirnya akhlaq mulia muslim dikalahkan demi ingin dikatakan asing di mata sesama muslim.

Penulis: Ma'mun Affany, M. Ud


Mengapa Umat Islam Saling Menyalahkan dan Mengkafirkan?

Posted by Dastan No comments

Di Indonesia muncul sebuah fenomena positif sekaligus negatif bagi umat Islam. Fenomena positif karena semakin banyak muslim yang berlomba untuk kuat-kuatan dalam mempertahankan sunnah rasul, ini sangat luar biasa, karena menjaga sunnah tentu tidak mudah. Fenomena negatif karena justru ketika menemukan seorang muslim yang tidak menjalankan sunnah akan dianggap bukan saudaranya, lebih buruk lagi dikafirkan dari keislamannya. Oleh sebab itu kita harus urai secara arif dua fenomena ini.


Fenomena ini dalam sudut pandang penulis berawal dari gerakan ihya’ sunnah (menghidupkan sunnah). Segala sesuatu yang berhubungan dengan sunnah yang dianjurkan oleh rasul semacam bersiwak dan harus dengan kayu siwak, kemudian dengan berjenggot. Intinya menghidupkan kembali sunah yang sering ditinggalkan, atau sunnah yang diremehkan. Ini adalah gerakan yang sangat baik. 


Tentu saja mereka juga menghidupkan sunnah untuk sesegera mungkin berada di masjid. Kemudian berpuasa senin dan kamis, atau menghidupkan sholat malam.  Namun demikian, mereka akan tampak jelas di hadapan muslim lain karena seringnya penampilan mereka akan terlihat berbeda mengingat yang dihidupkan juga sunnah yang berkaitan dengan cara berpakaian dan penampilan. Dan mereka akan mengamalkannya harus seratus persen sama persis dengan apa yang diamalkan oleh rasul. Kita harus menaruh hormat pada mereka, karena belum banyak orang yang mampu melakukannya.

Uniknya ketika mereka dipandang sebelah mata oleh orang lain, atau terlihat aneh bagi yang lain, dan merasa asing, mereka akan lebih yakin bahwa itulah yang benar-benar dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Dasarnya adalah hadist “Islam ini pada awalnya dianggap aneh dan akan kembali menjadi aneh sebagaimana awalnya dan beruntunglah orang-orang yang dianggap aneh saat itu” (HR. Muslim). Artinya apa yang dilakukan juga mendapatkan justifikasi juga dari hadist.

Masalah besarnya adalah saat kebanggaan untuk mengamalkan hal tersebut justru menimbulkan husnudzon pada pengamalnya bahwa merekalah orang-orang yang paling sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, apalagi sudah mengamalkan benar-benar seratus persen. Sehingga yang terjadi adalah, setiap orang yang ada di luar mereka, atau yang tidak seperti mereka meskipun seorang muslim, dianggap sebagai orang yang rendah dan bukan di golongan mereka.

Inilah yang menjadi satu hal yang kurang berkenan di hati muslim yang lain. Rasa respek kepada mereka dalam hal mengamalkan sunnah yang begitu luar biasa justru mengalahkan akhlaq yang diajarkan oleh rasul untuk menghormati antara satu dengan yang lain. Apalagi rasul juga diutus liutammima makarimal akhlaq, untuk menyempurnakan akhlaq manusia. 

Kalau boleh jujur, faktor utama yang menjadikan Islam berkembang pesat ketika itu adalah akhlaq rasul dan para sahabat yang luar biasa. Mereka memang keras, tapi dalam hal aqidah. “Qul aamantu billah”, katakanlah bahwa aku beriman kepada Allah. Semua sahabat paling keras dalam hal ini, sampai rela dibunuh karena mempertahankan ini. Tapi persoalan hubungan dengan sesama muslim mereka adalah orang-orang yang tidak ada duanya. Bahkan nabi Muhammad mendatangi non muslim yang melemparinya setiap hari dengan kotoran karena tiba-tiba absen tidak melemparinya dengan kotoran. Hati siapa yang tak luluh. Jika kita justru memusuhi sesama muslim, rasanya justru menjadikan Islam melemah dengan permusuhan antar sesama. Prinsipnya jika ada uswah dan orang nyaman di antara kita, mereka pasti akan perlahan-lahan mengikuti kita.

Bahkan lebih fenomenal lagi ketika tidak hanya menyalahkan, namun sampai mengkafirkan sesama muslim. Padahal untuk mengatakan orang lain kafir memiliki kriteria bahwa ia kafir secara niat  karena bertentangan dengan enam rukun iman atau mengingkari ajaran Islam yang “qath’i”. Atau ucapan sebagai bentuk pengakuan penolakan terhadap ajaran Islam. Atau perbuatan, melakukan sesuatu yang benar-benar terindikasi aqidah yang kufur. Di luar ini mereka masih muslim.

Memang hadist tentang keterasingan tadi ada kelanjutannya, “Orang-orang yang tetap berbuat baik dengan sunnahku (mengamalkan sunnahku) sementara manusia merusaknya (meninggalkan sunnah) (HR. Tirmidzi)” maka jika ada ada yang meyakini bahwa berpakaian seperti rasul adalah sunnah rasul yang ingin dihidupkan, maka jangan lupakan sunnah rasul yang menyatakan bahwa diutusnya rasul untuk menyempurnakan akhlaq.  Maka jika ada yang berjubah putih meyakini bahwa itu sunnah rasul dan harus dipakai setiap hari, maka yakini pula sunnah rasul yang menyatakan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.

Seharusnya tuntunan akhlaq rasul seperti saling menghormati, saling menyayangi, bahkan antara satu muslim dengan muslim yang lain seperti bangunan yang saling mengokohkan juga harus dipegang dengan teguh. Sehingga tidak hanya menimbulkan empati karena keteguhan dalam menjalankan sunnah sampai dalam bentuk berpakaian, tapi juga simpati karena akhlaq yang begitu agung.

Saya sampai mendengar cerita ada seseorang yang memang sedang giat menghidupkan sunnah rasul, sangat tampak dari pakaiannya. Selepas salam sholat jum’at ia kemudian langsung melangkah keluar shof yang masih berdzikir dan berdo’a, tanpa terduga kakinya tersangkut di salah satu tubuh jama’ah dan sampai terjatuh. Pasti sudah menjadi pengetahuan umum kita sedikit memohon maaf. Namun orang tersebut tidak, sepertinya jama’ah yang lain bukan dari golongan mereka, dan menjadikan jama’ah tersebut seperti orang asing. Pada akhirnya akhlaq mulia muslim dikalahkan demi ingin dikatakan asing di mata sesama muslim.

Penulis: Ma'mun Affany, M. Ud


Bahaya Islam Liberal

Coba silahkan dipilih, apakah lebih baik pelacur yang baik atau wanita berkerudung yang jahat? Jika kita terjebak dengan pertanyaan ini, maka boleh dikatakan secara sederhana bahwa Islam Liberal sudah merasuki pemikiran kita.

Islam Liberal sebenarnya merupakan potongan dari gerakan liberalisme. Sebuah pemikiran yang dengan cara halus mencoba merubah sudut pandang utama dalam setiap agama. Liberal berarti bebas, dengan kata lain mencoba untuk membebaskan setiap ikatan-ikatan yang ada dalam agama.

Ranah Islam Liberal bukanlah pada tataran sholat itu harus ada qunut atau tidak (cabang). Mereka benar-benar memahami perdebatan sengit tersebut tidak ada guna yang berarti. Tapi mereka masuk pada tataran pembebasan Aqidah yang menurut mereka membelenggu pemikiran.

Wilayah Aqidah memang pemikiran. Tidak boleh bertuhan dua, itu adalah keyakinan yang berasal dari pemikiran. Bahkan Islam sendiri menekankan bahwa dosa terbesar seperti syirik juga berasal dari pemikiran. Nabi Muhammad Saw. sendiri berdakwah terus menerus hanya untuk menekankan bahwa Tuhan agama Islam adalah satu.

Islam Liberal mencoba masuk pemikiran Islam melalui penyisipan paham-paham filsafat yang sangat digandrungi mahasiswa. Salah satunya adalah relativisme. Paham ini digulirkan oleh Islam Liberal ke dalam agama. Sehingga bagi mereka tidak ada kebenaran yang mutlak, yang ada hanyalah relatif saja. Kalau sudah semuanya relatif, Qur’an pada akhirnya juga relatif.

Boleh dikatakan usaha Islam Liberal merusak ummat Islam bukan dengan cara melarang beribadah, tapi merusak pola pikir hingga menghilangkan syari’at Islam agar terasa tidak perlu dipertahankan atau digunakan.

Contoh produk Islam liberal adalah tidak perlunya beribadah karena jika orang beribadah tidak baik, maka percuma ibadahnya. Atau lebih baik umat kristen yang baik daripada umat Islam yang jahat. Padahal harus diingat juga bahwa beragama adalah pendaftaran seseorang untuk dicatat kebaikan dan keburukannya. Jika ia sudah berislam, maka sudah mendapatkan pahala dari keislamannya, adapaun melakukan keburukan, maka akan mendapatkan dosa karena keburukannya.

Ciri-ciri utama dari pemikiran Islam Liberal adalah kelogisan argumen yang diutarakan. Contoh, keyakinan penuh terhadap agama masing-masing akan menjadikan manusia tersekat-sekat dan justru menghilangkan toleransi antar umat beragama. Menurut mereka justru sebenarnya Tuhan semua agama sama, hanya saja jalannya yang berbeda. Oleh sebab itu tidak usah bertengkar.

Melihat hal tersebut tentu saja seakan kelogisan yang diajukan. Padahal di dalam pemahaman tersebut sebenarnya ingin mengatakan bahwa lebih baik tidak bertuhan saja. Masalah toleransi antar umat beragama tergantung konsep dari setiap agama itu sendiri. Dalam Islam konsep toleransi sangatlah jelas. Terbukti dari masyarakat non muslim yang minoritas dalam kehidupan masyarakat muslim yang mayoritas selalu nyaman.

Belum lagi yang menyatakan bahwa sebenarnya sholat tidaklah perlu, yang terpenting adalah sholat dalam batin dan menjaga kebaikan. Buat apa sholat kalau tidak baik. Lebih baik menjadi orang yang dicintai banyak orang daripada sholat tapi dibenci banyak orang. Artinya mereka lebih menyodorkan kebaikan daripada unsur agama itu sendiri yang mengandung kebaikan.

Hebatnya Islam Liberal adalah cara penyebarannya yang memang sistematis melalui beberapa cara. Yang paling utama, serangan mereka masuk ke dalam kalangan-kalangan akademisi yang gandrung dengan pemikiran melalui buku-buku yang ditulis dan opini-opini yang disebar melalui media masa. Oleh sebab itu basis mereka adalah kampus-kampus.

Ditambah lagi bahwa yang masuk ke dalamnya adalah individu-individu yang memang pintar dalam pemahaman literatur Islam sehingga sangat lihai untuk memutar balikkan rujukan. Sehingga kemudian yang menghadapi dan menikmati akan terkesan hanyut dengan pemikiran-pemikiran yang sebenarnya absurd.

Cara menangkalnya adalah pembelajaran tentang agama Islam yang integral. Kemudian pengetahuan wilayah-wilayah yang sebenarnya bisa berubah (mutaghayyirat) dan wilayah-wilayah yang tidak akan pernah bisa berubah (Tsawabit). Jika hal ini sudah dipahami dengan benar, maka Bahaya Islam Liberal bisa dihindari.

Oleh: Ma'mun Affany

Bahaya Islam Liberal

Posted by Dastan No comments

Coba silahkan dipilih, apakah lebih baik pelacur yang baik atau wanita berkerudung yang jahat? Jika kita terjebak dengan pertanyaan ini, maka boleh dikatakan secara sederhana bahwa Islam Liberal sudah merasuki pemikiran kita.

Islam Liberal sebenarnya merupakan potongan dari gerakan liberalisme. Sebuah pemikiran yang dengan cara halus mencoba merubah sudut pandang utama dalam setiap agama. Liberal berarti bebas, dengan kata lain mencoba untuk membebaskan setiap ikatan-ikatan yang ada dalam agama.

Ranah Islam Liberal bukanlah pada tataran sholat itu harus ada qunut atau tidak (cabang). Mereka benar-benar memahami perdebatan sengit tersebut tidak ada guna yang berarti. Tapi mereka masuk pada tataran pembebasan Aqidah yang menurut mereka membelenggu pemikiran.

Wilayah Aqidah memang pemikiran. Tidak boleh bertuhan dua, itu adalah keyakinan yang berasal dari pemikiran. Bahkan Islam sendiri menekankan bahwa dosa terbesar seperti syirik juga berasal dari pemikiran. Nabi Muhammad Saw. sendiri berdakwah terus menerus hanya untuk menekankan bahwa Tuhan agama Islam adalah satu.

Islam Liberal mencoba masuk pemikiran Islam melalui penyisipan paham-paham filsafat yang sangat digandrungi mahasiswa. Salah satunya adalah relativisme. Paham ini digulirkan oleh Islam Liberal ke dalam agama. Sehingga bagi mereka tidak ada kebenaran yang mutlak, yang ada hanyalah relatif saja. Kalau sudah semuanya relatif, Qur’an pada akhirnya juga relatif.

Boleh dikatakan usaha Islam Liberal merusak ummat Islam bukan dengan cara melarang beribadah, tapi merusak pola pikir hingga menghilangkan syari’at Islam agar terasa tidak perlu dipertahankan atau digunakan.

Contoh produk Islam liberal adalah tidak perlunya beribadah karena jika orang beribadah tidak baik, maka percuma ibadahnya. Atau lebih baik umat kristen yang baik daripada umat Islam yang jahat. Padahal harus diingat juga bahwa beragama adalah pendaftaran seseorang untuk dicatat kebaikan dan keburukannya. Jika ia sudah berislam, maka sudah mendapatkan pahala dari keislamannya, adapaun melakukan keburukan, maka akan mendapatkan dosa karena keburukannya.

Ciri-ciri utama dari pemikiran Islam Liberal adalah kelogisan argumen yang diutarakan. Contoh, keyakinan penuh terhadap agama masing-masing akan menjadikan manusia tersekat-sekat dan justru menghilangkan toleransi antar umat beragama. Menurut mereka justru sebenarnya Tuhan semua agama sama, hanya saja jalannya yang berbeda. Oleh sebab itu tidak usah bertengkar.

Melihat hal tersebut tentu saja seakan kelogisan yang diajukan. Padahal di dalam pemahaman tersebut sebenarnya ingin mengatakan bahwa lebih baik tidak bertuhan saja. Masalah toleransi antar umat beragama tergantung konsep dari setiap agama itu sendiri. Dalam Islam konsep toleransi sangatlah jelas. Terbukti dari masyarakat non muslim yang minoritas dalam kehidupan masyarakat muslim yang mayoritas selalu nyaman.

Belum lagi yang menyatakan bahwa sebenarnya sholat tidaklah perlu, yang terpenting adalah sholat dalam batin dan menjaga kebaikan. Buat apa sholat kalau tidak baik. Lebih baik menjadi orang yang dicintai banyak orang daripada sholat tapi dibenci banyak orang. Artinya mereka lebih menyodorkan kebaikan daripada unsur agama itu sendiri yang mengandung kebaikan.

Hebatnya Islam Liberal adalah cara penyebarannya yang memang sistematis melalui beberapa cara. Yang paling utama, serangan mereka masuk ke dalam kalangan-kalangan akademisi yang gandrung dengan pemikiran melalui buku-buku yang ditulis dan opini-opini yang disebar melalui media masa. Oleh sebab itu basis mereka adalah kampus-kampus.

Ditambah lagi bahwa yang masuk ke dalamnya adalah individu-individu yang memang pintar dalam pemahaman literatur Islam sehingga sangat lihai untuk memutar balikkan rujukan. Sehingga kemudian yang menghadapi dan menikmati akan terkesan hanyut dengan pemikiran-pemikiran yang sebenarnya absurd.

Cara menangkalnya adalah pembelajaran tentang agama Islam yang integral. Kemudian pengetahuan wilayah-wilayah yang sebenarnya bisa berubah (mutaghayyirat) dan wilayah-wilayah yang tidak akan pernah bisa berubah (Tsawabit). Jika hal ini sudah dipahami dengan benar, maka Bahaya Islam Liberal bisa dihindari.

Oleh: Ma'mun Affany

Mengapa Syiah Bukan Islam?

Banyak orang memahami bahwa Syi’ah layaknya Muhammadiyah dan NU di dalam Islam. mereka mengucapkan Allahu Akbar, sholat, dll. Namun demikian pada hakikatnya Syi’ah bukanlah Islam.

Hal yang paling mendasar adalah Qur’an dan hadist mereka sangatlah berbeda dengan Qur’an dan Hadist yang dimiliki oleh umat Islam. Alasannya adalah keberadaan rukun iman mereka yang meyakini adanya Imam yang berhak menentukan ajaran dalam agama mereka. Mereka menafsirkan bahwa Imam adalah wakil Allah di dunia sehingga bisa menentukan ajarannya.

Contoh kecil dalam hal pernikahan. Syi’ah membolehkan nikah mut’ah yang sebenarnya seperti layaknya pelacuran, karena hanya terikat dalam waktu tertentu, nikah tiga bulan, satu tahun. Yang teraniaya pastinya kaum perempuan, padahal Islam tidak merendahkan kaum perempuan, justru melindungi perempuan, nikah poligamipun dalam Islam ibarat pintu darurat saat kecelakaan, ini justru memperdagangkan perempuan dalam jangka waktu tertentu.

Contoh lain mereka menyatakan bahwa sahabat terdekat nabi, semacam Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Muawiyah, Hafshah, Hindun adalah musuh-musuh Allah. Orang syi’ah wajib memusuhi mereka sebagai salah satu dasar ketentuan kayakinan terhadap Syi’ah itu sendiri.

Bahkan di tanggal 10 muharram yang disebut dengan hari Asyura, mereka akan melakukan sebuah ritual yang mengerikan, yaitu melukai tubuhnya sendiri hingga berdarah bahkan mati demi meratapi kesedihan kematian Husain di tanggal itu. Mereka akan memukul bahu, mengiris kepala dengan pedang, bahkan sampai anak kecil pun melakukan hal demikian. Padahal tidak ada ajaran satupun dalam Islam yang menganjurkan untuk melukai diri sendiri. Oleh sebab itu jika Syi’ah masuk Indonesia, itu artinya darah akan terlihat di mana-mana.

Mengapa Syiah Bukan Islam?

Posted by Dastan No comments

Banyak orang memahami bahwa Syi’ah layaknya Muhammadiyah dan NU di dalam Islam. mereka mengucapkan Allahu Akbar, sholat, dll. Namun demikian pada hakikatnya Syi’ah bukanlah Islam.

Hal yang paling mendasar adalah Qur’an dan hadist mereka sangatlah berbeda dengan Qur’an dan Hadist yang dimiliki oleh umat Islam. Alasannya adalah keberadaan rukun iman mereka yang meyakini adanya Imam yang berhak menentukan ajaran dalam agama mereka. Mereka menafsirkan bahwa Imam adalah wakil Allah di dunia sehingga bisa menentukan ajarannya.

Contoh kecil dalam hal pernikahan. Syi’ah membolehkan nikah mut’ah yang sebenarnya seperti layaknya pelacuran, karena hanya terikat dalam waktu tertentu, nikah tiga bulan, satu tahun. Yang teraniaya pastinya kaum perempuan, padahal Islam tidak merendahkan kaum perempuan, justru melindungi perempuan, nikah poligamipun dalam Islam ibarat pintu darurat saat kecelakaan, ini justru memperdagangkan perempuan dalam jangka waktu tertentu.

Contoh lain mereka menyatakan bahwa sahabat terdekat nabi, semacam Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Muawiyah, Hafshah, Hindun adalah musuh-musuh Allah. Orang syi’ah wajib memusuhi mereka sebagai salah satu dasar ketentuan kayakinan terhadap Syi’ah itu sendiri.

Bahkan di tanggal 10 muharram yang disebut dengan hari Asyura, mereka akan melakukan sebuah ritual yang mengerikan, yaitu melukai tubuhnya sendiri hingga berdarah bahkan mati demi meratapi kesedihan kematian Husain di tanggal itu. Mereka akan memukul bahu, mengiris kepala dengan pedang, bahkan sampai anak kecil pun melakukan hal demikian. Padahal tidak ada ajaran satupun dalam Islam yang menganjurkan untuk melukai diri sendiri. Oleh sebab itu jika Syi’ah masuk Indonesia, itu artinya darah akan terlihat di mana-mana.

back to top