What's New Here?

Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Mengapa Islam Tidak Memperbolehkan Poliandri?

Poliandri merupakan pernikahan satu wanita dengan lebih dari satu laki-laki. Islam melarang hal ini karena beberapa alasan. Yang paling penting adalah terhindarnya penyakit kelamin dan aids. Anda tahu sumber penyakit kelamin dan aids di mana? Ya, pelacuran. Tempat yang satu ini memang sumber penyakit yang tidak ada obatnya tersebut, dan itu dikarenakan adanya hubungan wanita dengan banyak pria.

Islam juga menjaga kejelasan nasab seseorang. Logikanya, jika satu botol air dituangkan ke dalam sebuah gelas, maka air dalam gelas tersebut jelas sumbernya. Tapi jika empat botol dituangkan ke dalam satu gelas, bisakah dikembalikan dengan benar air yang dari botol A, B, C, dan D? begitulah logikanya. 

Kejelasan nasab tidak akan terjaga, dan nantinya akan menjalar ke hak warisan. Jangan meremehkan warisan, faktanya kalau orang bercerai yang paling genjar dikejar harga gono-gini. Jika tidak tahu siapa bapaknya, atau mengaku-ngaku sebagai anak, sulit nantinya menghindari pertengkaran.

Bukankah sekarang ada tes DNA? Ya benar, tapi lihat bahaya yang pertama, yaitu penyakit kelamin tadi. Dan DNA tidak seratus persen menjamin kebenaran dari sebuah keturunan.

Lalu jika poligami menghindarkan laki-laki dari berbuat zina, lalu mengapa tidak dilegalkan poliandri agar menghindarkan wanita dari zina juga? Sebelum menjawab pertanyaan ini perlu dipahami bahwa godaan terbesar laki-laki hidup di dunia adalah wanita, hampir semua kasus kejatuhan laki-laki besar berawal dari tergodanya akan perempuan.

Gejolak nafsu seksual perempuan tidak mudah diungkapkan, mereka lebih dingin, tidak seperti laki-laki yang meledak-ledak. Maka pernahkah menemukan pemerkosaan satu laki-laki oleh satu perempuan? Pasti tidak. Tapi pemerkosaan satu laki-laki terhadap satu perempuan, pasti sering.

Bagi wanita, godaan utama untuknya bukanlah pria, tapi harta dan perasaannya. Ini harus disadari terlebih dahulu. Artinya wanita tidak butuh banyak pria, ia hanya dicukupkan satu pria yang menjaganya dan memenuhi segala kebutuhannya. Itu saja, dan Islam memahami fitrah dasar wanita yang satu ini hingga melarang adanya poliandri. 

Mengapa Islam Tidak Memperbolehkan Poliandri?

Posted by Dastan No comments

Poliandri merupakan pernikahan satu wanita dengan lebih dari satu laki-laki. Islam melarang hal ini karena beberapa alasan. Yang paling penting adalah terhindarnya penyakit kelamin dan aids. Anda tahu sumber penyakit kelamin dan aids di mana? Ya, pelacuran. Tempat yang satu ini memang sumber penyakit yang tidak ada obatnya tersebut, dan itu dikarenakan adanya hubungan wanita dengan banyak pria.

Islam juga menjaga kejelasan nasab seseorang. Logikanya, jika satu botol air dituangkan ke dalam sebuah gelas, maka air dalam gelas tersebut jelas sumbernya. Tapi jika empat botol dituangkan ke dalam satu gelas, bisakah dikembalikan dengan benar air yang dari botol A, B, C, dan D? begitulah logikanya. 

Kejelasan nasab tidak akan terjaga, dan nantinya akan menjalar ke hak warisan. Jangan meremehkan warisan, faktanya kalau orang bercerai yang paling genjar dikejar harga gono-gini. Jika tidak tahu siapa bapaknya, atau mengaku-ngaku sebagai anak, sulit nantinya menghindari pertengkaran.

Bukankah sekarang ada tes DNA? Ya benar, tapi lihat bahaya yang pertama, yaitu penyakit kelamin tadi. Dan DNA tidak seratus persen menjamin kebenaran dari sebuah keturunan.

Lalu jika poligami menghindarkan laki-laki dari berbuat zina, lalu mengapa tidak dilegalkan poliandri agar menghindarkan wanita dari zina juga? Sebelum menjawab pertanyaan ini perlu dipahami bahwa godaan terbesar laki-laki hidup di dunia adalah wanita, hampir semua kasus kejatuhan laki-laki besar berawal dari tergodanya akan perempuan.

Gejolak nafsu seksual perempuan tidak mudah diungkapkan, mereka lebih dingin, tidak seperti laki-laki yang meledak-ledak. Maka pernahkah menemukan pemerkosaan satu laki-laki oleh satu perempuan? Pasti tidak. Tapi pemerkosaan satu laki-laki terhadap satu perempuan, pasti sering.

Bagi wanita, godaan utama untuknya bukanlah pria, tapi harta dan perasaannya. Ini harus disadari terlebih dahulu. Artinya wanita tidak butuh banyak pria, ia hanya dicukupkan satu pria yang menjaganya dan memenuhi segala kebutuhannya. Itu saja, dan Islam memahami fitrah dasar wanita yang satu ini hingga melarang adanya poliandri. 

Mengapa Ketika Wudhu Yang Dibasuh Organ-organ Tertentu?

Tahukah Anda bahwa sebenarnya yang wajib dibasuh ketika berwudhu kebanyakan merupakan lima titik penting dari panca Indera. Ketika membasuh tangan, itu merupakan indera peraba. Ketika membasuh muka beserta hidung, itu merupakan indera pencium. Sunnahnya berkumur-kumur, itu merupakan indera perasa. Membasuh telinga itu merupakan indera pendengar.

Kalau dipelajari lebih detil, sumber dosa manusia memang terdapat pada panca inderanya. Oleh sebab itu dengan kata lain, di samping untuk membersihkan secara lahir, juga paling tidak memperbaharui indera secara batin. Tapi jangan mengartikan bahwa dosa yang dilakukan akan terhapus, itu mustahil. Tapi memperbaharui artinya menyadarkan kembali pada Ilahi.

Di samping hikmah tersebut, ternyata anggota tubuh yang dibasuh ketika berwudhu sebenarnya merupakan titik-titik penting dalam dunia akupunktur. Total ada 493 titik, yang terdiri dari tangan 95 titik, muka 84 titik, kepala 64 titik, telinga 125 titik, dan kaki 125 titik. Wowww. Ajaib pastinya. Titik tersebut merupakan pusat penerima rangsangan terhadap sentuhan berupa gosokan, basuhan, tekanan, dan usapan yang dilakukan dalam wudhu. Dan ajaibnya, sentuhan tersebut sesungguhnya merupakan hantaran signal ke sel, jaringan, organ untuk terapi sehingga menciptakan keseimbangan dalam tubuh.
Bahkan titik telinga di mana sebenarnya sunnah, di situ terdapat 30 titik rangsangan di mana saat membasuh, jika diurut lembut seperti dalam sunnah, maka akan menciptkan keseimbangan dalam organ tersebut.

Prof Leopold Werner Von Ehrenfels lebih jauh lagi meneliti, ia merupakan seorang ahli neurology dan psikiatris dari Austria. Setelah meneliti dan mengkaji mendalam tentang wudhu, pada akhirnya ia memeluk Islam. Ia menemukan bahwa pusat-pusat saraf yang paling peka ternyata berada di sebelah dahi, kaki, dan tangan. Dan pusat saraf tersebut sangat sensitif sekali terhadap sentuhan air segar. Itulah yang ada dalam wudhu. Kadang memang kita belum mengerti hikmahnya, karena kita tidak ahli. Tapi seorang pakar akan membuktikan, bahwa apa yang ada dalam Islam mengandung sejuta hikmah yang tersimpan.

Mengapa Ketika Wudhu Yang Dibasuh Organ-organ Tertentu?

Posted by Dastan No comments

Tahukah Anda bahwa sebenarnya yang wajib dibasuh ketika berwudhu kebanyakan merupakan lima titik penting dari panca Indera. Ketika membasuh tangan, itu merupakan indera peraba. Ketika membasuh muka beserta hidung, itu merupakan indera pencium. Sunnahnya berkumur-kumur, itu merupakan indera perasa. Membasuh telinga itu merupakan indera pendengar.

Kalau dipelajari lebih detil, sumber dosa manusia memang terdapat pada panca inderanya. Oleh sebab itu dengan kata lain, di samping untuk membersihkan secara lahir, juga paling tidak memperbaharui indera secara batin. Tapi jangan mengartikan bahwa dosa yang dilakukan akan terhapus, itu mustahil. Tapi memperbaharui artinya menyadarkan kembali pada Ilahi.

Di samping hikmah tersebut, ternyata anggota tubuh yang dibasuh ketika berwudhu sebenarnya merupakan titik-titik penting dalam dunia akupunktur. Total ada 493 titik, yang terdiri dari tangan 95 titik, muka 84 titik, kepala 64 titik, telinga 125 titik, dan kaki 125 titik. Wowww. Ajaib pastinya. Titik tersebut merupakan pusat penerima rangsangan terhadap sentuhan berupa gosokan, basuhan, tekanan, dan usapan yang dilakukan dalam wudhu. Dan ajaibnya, sentuhan tersebut sesungguhnya merupakan hantaran signal ke sel, jaringan, organ untuk terapi sehingga menciptakan keseimbangan dalam tubuh.
Bahkan titik telinga di mana sebenarnya sunnah, di situ terdapat 30 titik rangsangan di mana saat membasuh, jika diurut lembut seperti dalam sunnah, maka akan menciptkan keseimbangan dalam organ tersebut.

Prof Leopold Werner Von Ehrenfels lebih jauh lagi meneliti, ia merupakan seorang ahli neurology dan psikiatris dari Austria. Setelah meneliti dan mengkaji mendalam tentang wudhu, pada akhirnya ia memeluk Islam. Ia menemukan bahwa pusat-pusat saraf yang paling peka ternyata berada di sebelah dahi, kaki, dan tangan. Dan pusat saraf tersebut sangat sensitif sekali terhadap sentuhan air segar. Itulah yang ada dalam wudhu. Kadang memang kita belum mengerti hikmahnya, karena kita tidak ahli. Tapi seorang pakar akan membuktikan, bahwa apa yang ada dalam Islam mengandung sejuta hikmah yang tersimpan.

Mengapa Islam Bisa Cepat Diterima Oleh Masyarakat Indonesia?

Pada masa sebelum Islam datang, Indonesia sudah terlebih dahulu diwarnai dengan agama Hindu dan Budha. Bukti nyatanya tentu saja banyaknya candi yang ada di Indonesia. Namun demikian persoalannya, mengapa penduduk Indonesia yang sedemikian banyak mayoritas memeluk islam? Bahkan terkesan Islam sangat mudah diterima oleh Masyarakat Indonesia.

Sebelum menjawab pertanyaan ini maka kita harus mengenal terlebih dahulu karakter orang Indonesia pada umumnya. Orang Indonesia terkenal sedari dulu sangatlah ramah, terutama orang jawa sebagai mayoritas penyebaran agama Islam. Keramahan yang dimililki itulah kemudian menjadikan orang Indonesia bersifat permisiv, mudah menerima jika tidak menyinggung harga dirinya.

Namun demikian, sebenarnya ada beberapa faktor utama mengapa agama Islam begitu mudah tersebar. Pertama, dalam agama Islam tidak terdapat unsur kasta yang membedakan antara rakyat miskin dan kaya, terhormat atau terhina. Sehingga orang Indonesia menyukainya. Kedua, cara masuk Islam sangatlah mudah, cukup mengucap dua syahadat saja tanpa ritual-ritual pelik yang lainnya.

Selanjutnya, Indonesia memiliki akar budaya yang kuat, dan Islam yang dibawa oleh para wali ketika itu justru tidak melarang segala budaya yang ada, tapi justru membiarkan budaya tersebut ada, namun mewarnainya dengan ajaran agama Islam. Contoh seperti wayang yang dihiasi dengan jimat kalimosodo yang sebenarnya artinya jimat kalimat syahadat. Ada juga nyanyian jawa Lir Ilir yang jika diteliti artinya sangat religious.

Wali Songo juga tidak secara sporadis berda’wah. Seperti membuat parit kecil berisi air sebelum masuk masjid, tidak lain memiliki tujuan agar kaki bersih dan suci karena dahulu tidak banyak sandal. Bukan dimarahi, tapi kreatif dengan membuat media pembersihnya. Hal inilah yang menjadikan Islam cepat berkembang, cepat dipeluk, dan tidak mudah orang-orangnya berpindah agama meski sudah dijajah beratus-ratus tahun lamanya.

Mengapa Islam Bisa Cepat Diterima Oleh Masyarakat Indonesia?

Posted by Dastan No comments

Pada masa sebelum Islam datang, Indonesia sudah terlebih dahulu diwarnai dengan agama Hindu dan Budha. Bukti nyatanya tentu saja banyaknya candi yang ada di Indonesia. Namun demikian persoalannya, mengapa penduduk Indonesia yang sedemikian banyak mayoritas memeluk islam? Bahkan terkesan Islam sangat mudah diterima oleh Masyarakat Indonesia.

Sebelum menjawab pertanyaan ini maka kita harus mengenal terlebih dahulu karakter orang Indonesia pada umumnya. Orang Indonesia terkenal sedari dulu sangatlah ramah, terutama orang jawa sebagai mayoritas penyebaran agama Islam. Keramahan yang dimililki itulah kemudian menjadikan orang Indonesia bersifat permisiv, mudah menerima jika tidak menyinggung harga dirinya.

Namun demikian, sebenarnya ada beberapa faktor utama mengapa agama Islam begitu mudah tersebar. Pertama, dalam agama Islam tidak terdapat unsur kasta yang membedakan antara rakyat miskin dan kaya, terhormat atau terhina. Sehingga orang Indonesia menyukainya. Kedua, cara masuk Islam sangatlah mudah, cukup mengucap dua syahadat saja tanpa ritual-ritual pelik yang lainnya.

Selanjutnya, Indonesia memiliki akar budaya yang kuat, dan Islam yang dibawa oleh para wali ketika itu justru tidak melarang segala budaya yang ada, tapi justru membiarkan budaya tersebut ada, namun mewarnainya dengan ajaran agama Islam. Contoh seperti wayang yang dihiasi dengan jimat kalimosodo yang sebenarnya artinya jimat kalimat syahadat. Ada juga nyanyian jawa Lir Ilir yang jika diteliti artinya sangat religious.

Wali Songo juga tidak secara sporadis berda’wah. Seperti membuat parit kecil berisi air sebelum masuk masjid, tidak lain memiliki tujuan agar kaki bersih dan suci karena dahulu tidak banyak sandal. Bukan dimarahi, tapi kreatif dengan membuat media pembersihnya. Hal inilah yang menjadikan Islam cepat berkembang, cepat dipeluk, dan tidak mudah orang-orangnya berpindah agama meski sudah dijajah beratus-ratus tahun lamanya.

Mengapa Wudhu Harus Membasuh Tiga Kali?

Dalam berwudhu setiap orang disunnahkan untuk membasuh bagian-bagian tubuh seperti tangan, wajah, rambut, dan kaki. Sebenarnya yang wajib adalah sekali, artinya tiga kali tidaklah wajib, namun hanya sebatas sunnah semata. Maka jika seseorang berwudhu dan membasuh sebatas sekali, maka wudhunya tetap dikatakan sah. Namun demikian dalam tata cara wudhu ada sebuah hadist yang menyatakan bahwa membasuh bagian tubuh seperti tangan sebanyak tiga kali. Artinya ini yang sangat dianjurkan.

Jika diteliti lebih jauh memang dalam Islam banyak hal, terutama anjuran beribadah yang jumlahnya ganjil. Seperti sholat witir, jumlah bertasbih, 7 atau 11 atau 33. Asmaul husna berjumlah 99. Artinya Allah menyukai sesuatu yang ganjil.

Lebih jauh lagi, sebenarnya dalam ilmu kimia terdapat sebuah teori yang bernama konsentrasi. Dalam teori tersebut dijelaskan bahwa lebih baik dicuci 3 kali daripada dicuci 1 kali dengan volume air yang sama. Contoh jika kita memiliki air 3 liter, maka sebuah sapu tangan akan jauh lebih bersih dicuci tiga kali dengan masing-masing 1 liter air, daripada sekali tapi hanya dengan 1 liter air. Begitu pula dengan wudlu.

Dan juga membasuh tiga kali adalah sebuah perbuatan untuk kesempurnaan perbuatan. Maksudnya, jika kita membasuh sekali, mungkin ada yang belum kena air. Tapi jika membasuh dua kali, maka akan terbasuh bagian yang belum dikenai. Dan jika membasuh tiga kali, maka akan yakin bahwa semua bagian sudah terkena air.

Mengapa Wudhu Harus Membasuh Tiga Kali?

Posted by Dastan 3 comments

Dalam berwudhu setiap orang disunnahkan untuk membasuh bagian-bagian tubuh seperti tangan, wajah, rambut, dan kaki. Sebenarnya yang wajib adalah sekali, artinya tiga kali tidaklah wajib, namun hanya sebatas sunnah semata. Maka jika seseorang berwudhu dan membasuh sebatas sekali, maka wudhunya tetap dikatakan sah. Namun demikian dalam tata cara wudhu ada sebuah hadist yang menyatakan bahwa membasuh bagian tubuh seperti tangan sebanyak tiga kali. Artinya ini yang sangat dianjurkan.

Jika diteliti lebih jauh memang dalam Islam banyak hal, terutama anjuran beribadah yang jumlahnya ganjil. Seperti sholat witir, jumlah bertasbih, 7 atau 11 atau 33. Asmaul husna berjumlah 99. Artinya Allah menyukai sesuatu yang ganjil.

Lebih jauh lagi, sebenarnya dalam ilmu kimia terdapat sebuah teori yang bernama konsentrasi. Dalam teori tersebut dijelaskan bahwa lebih baik dicuci 3 kali daripada dicuci 1 kali dengan volume air yang sama. Contoh jika kita memiliki air 3 liter, maka sebuah sapu tangan akan jauh lebih bersih dicuci tiga kali dengan masing-masing 1 liter air, daripada sekali tapi hanya dengan 1 liter air. Begitu pula dengan wudlu.

Dan juga membasuh tiga kali adalah sebuah perbuatan untuk kesempurnaan perbuatan. Maksudnya, jika kita membasuh sekali, mungkin ada yang belum kena air. Tapi jika membasuh dua kali, maka akan terbasuh bagian yang belum dikenai. Dan jika membasuh tiga kali, maka akan yakin bahwa semua bagian sudah terkena air.

Mengapa Nabi Muhammad Poligami?

Sebelum menjawab pertanyaan ini sejenak pahami terlebih dahulu bahwa nabi Muhammad menikah di usia 25 tahun. Masa di mana bagi seorang lelaki sangatlah matang dan butuh teman hidup. Saat itulah nabi menikah dengan siti Khadijah yang usianya ketika itu 40 tahun. Artinya nabi Muhammad bukanlah penganut pencari perempuan pemuas nafsu. Hal ini dibuktikan dengan kesetiaan nabi mendampingi Khadijah yang berumur hingga 65 tahun. Jika dilihat usia tersebut di masa sekarang, maka kecantikan benar-benar sudah tidak ada.

Nabi Muhammad selanjutnya tidak langsung menikah, meskipun dalam Islam ada masa Iddah (tunggu) jika hendak menikahi janda, yaitu tiga kali haid. Namun nabi Muhammad menduda hingga empat tahun. Lalu apa sebenarnya yang menjadikan nabi menikah kembali?

Ada dua faktor besar yang ada di sekitar nabi Muhammad. Pertama, peperangan demi mempertahankan Islam. Akibat peperangan ini tentu saja banyak orang-orang Muslim yang gugur. Hal ini kemudian menjadikan istri-istri para sahabat sendirian menduda, dan bahkan ada rasa keterancaman karena perang.

Kedua, terbangunnya persaudaraan di antara umat Islam. Tekanan peperangan menjadikan umat Islam benar-benar harus mempererat tali persaudaraan dan memperluas jaringan. Dengan demikian rasul menikah dengan beberapa perempuan demi menolong mereka bukan demi memuaskan nafsu pribadinya. Faktanya, tiga di antara istri nabi merupakan budak (Siti Shafiyah, Siti Juwariyah, dan Maria Al-Qibtiyah). Kita pasti pernah lihat film tentang budak. Adakah orang dahulu yang mau menikahi budak? Tujuh orang wanita merdeka, tapi janda.

Masalahnya seringkali adalah Aisyah yang dinikahi masih gadis dan tergolong masih kecil, 11 tahun. Yang dilupakan orang sekarang, 11 tahun saat itu sudah sangat dewasa, Usamah saja yang baru berusia 19 tahun menjadi panglima perang. Bahkan hal itu (wanita muda menikah) sangat umum terjadi di zaman Rasul. Oleh sebab itu di zaman rasul tidak ada yang menjelek-jelekkan rasul dalam hal pernikahannya dengan Aisyah, karena hal tersebut sudah sangat lumrah.

Mengapa Nabi Muhammad Poligami?

Posted by Dastan No comments

Sebelum menjawab pertanyaan ini sejenak pahami terlebih dahulu bahwa nabi Muhammad menikah di usia 25 tahun. Masa di mana bagi seorang lelaki sangatlah matang dan butuh teman hidup. Saat itulah nabi menikah dengan siti Khadijah yang usianya ketika itu 40 tahun. Artinya nabi Muhammad bukanlah penganut pencari perempuan pemuas nafsu. Hal ini dibuktikan dengan kesetiaan nabi mendampingi Khadijah yang berumur hingga 65 tahun. Jika dilihat usia tersebut di masa sekarang, maka kecantikan benar-benar sudah tidak ada.

Nabi Muhammad selanjutnya tidak langsung menikah, meskipun dalam Islam ada masa Iddah (tunggu) jika hendak menikahi janda, yaitu tiga kali haid. Namun nabi Muhammad menduda hingga empat tahun. Lalu apa sebenarnya yang menjadikan nabi menikah kembali?

Ada dua faktor besar yang ada di sekitar nabi Muhammad. Pertama, peperangan demi mempertahankan Islam. Akibat peperangan ini tentu saja banyak orang-orang Muslim yang gugur. Hal ini kemudian menjadikan istri-istri para sahabat sendirian menduda, dan bahkan ada rasa keterancaman karena perang.

Kedua, terbangunnya persaudaraan di antara umat Islam. Tekanan peperangan menjadikan umat Islam benar-benar harus mempererat tali persaudaraan dan memperluas jaringan. Dengan demikian rasul menikah dengan beberapa perempuan demi menolong mereka bukan demi memuaskan nafsu pribadinya. Faktanya, tiga di antara istri nabi merupakan budak (Siti Shafiyah, Siti Juwariyah, dan Maria Al-Qibtiyah). Kita pasti pernah lihat film tentang budak. Adakah orang dahulu yang mau menikahi budak? Tujuh orang wanita merdeka, tapi janda.

Masalahnya seringkali adalah Aisyah yang dinikahi masih gadis dan tergolong masih kecil, 11 tahun. Yang dilupakan orang sekarang, 11 tahun saat itu sudah sangat dewasa, Usamah saja yang baru berusia 19 tahun menjadi panglima perang. Bahkan hal itu (wanita muda menikah) sangat umum terjadi di zaman Rasul. Oleh sebab itu di zaman rasul tidak ada yang menjelek-jelekkan rasul dalam hal pernikahannya dengan Aisyah, karena hal tersebut sudah sangat lumrah.

back to top