What's New Here?

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Keajaiban Al Qur’an bagi Otak Manusia

Al Quran merupakan kitab suci umat Islam yang diyakini diwahyukan oleh Allah kepada nabi Muhammad Saw. sebagai sebuah petunjuk bagi umat manusia dalam mengarungi segala hidupnya. Sayangnya tidak banyak yang mengetahui keajaiban yang ada di dalam al Qur’an. Berikut kami akan urai beberapa keajaiban dan fakta menarik seputar al Qur’an.

Pertama, Al Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang paling banyak tidak dimengerti artinya oleh pembacanya. Ya, hal ini tidak perlu dibuktikan secara ilmiah. Mayoritas masyarakat Indonesia saja tidak memahami arti dalam al Qur’an, namun gerakan-gerakan semacam membaca Qur’an bersama, menghafal Qur’an marak digerakkan. Padahal kitab suci lain meskipun sudah diterjemahkan tetap tidak banyak yang membaca. Tapi al Qur’an justru memberikan fakta berbeda.

Kedua, setiap lafadz dalam al Qur’an mempunyai kesesuaian dengan otak manusia. Dalam arti lafadz yang paling mudah melekat di otak manusia. Buktinya, anak kecil yang masih berumur 6 tahun sudah bisa menghafal al Qur’an. Bukti lain, jika Anda membaca sangat cepat berdasarkan hafalan yang dimiliki di kepala, maka kecepatan itu akan mengalahkan hafalan orang lain terhadap sebuah lagi jika dibacakan dengan cepat. Artinya nutrisi paling sesuai dengan otak adalah al Qur’an.

Ketiga, karena al Qur’an sesuai dengan otak manusia, maka bacaan dalam al Qur’an sangat mempengaruhi kecerdasan manusia. Jika Anda belum percaya, coba berada sekelas dengan penghafal al Qur’an, ia akan memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Logikanya, otak terus diberikan nutrisi oleh lafadz-lafadz tersebut. Oleh sebab itu banyak beasiswa bagi anak-anak yang mampu menghafalkan al Quran.

Keempat, Al Qur’an mampu menaikkan kecerdasan manusia. Jika Anda menganggap yang menghafal al Qur’an adalah anak-anak cerdas, maka sebenarnya tidak benar. Sebuah penelitian dilakukan oleh Dr. Masaru Emoto dan Kazuya Ishibashi, bahwa bacaan al Qur’an sangat mempengaruhi kualitas air yang dibacakannya. Hubungannya dengan otak adalah, dalam otak terdapat cairan, jika dibacakan al Qur’an kualitas dari cairan dalam otak tersebut akan meningkat, sehingga kecerdasan pun akan meningkat.

Kelima, Al Qur’an dapat menenangkan pikiran. Dr. Al Qadhi, Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan bacaan al Qur’an memiliki pengaruh lain untuk otak meskipun yang mendengar tidak mengerti arti yang didendangkan (arrahmah.com). Tidak mengherankan jika seringkali ada orang yang mendengarkan al Qur’an sampai menangis, trenyuh.

Keajaiban Al Qur’an bagi Otak Manusia

Posted by Dastan No comments

Al Quran merupakan kitab suci umat Islam yang diyakini diwahyukan oleh Allah kepada nabi Muhammad Saw. sebagai sebuah petunjuk bagi umat manusia dalam mengarungi segala hidupnya. Sayangnya tidak banyak yang mengetahui keajaiban yang ada di dalam al Qur’an. Berikut kami akan urai beberapa keajaiban dan fakta menarik seputar al Qur’an.

Pertama, Al Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang paling banyak tidak dimengerti artinya oleh pembacanya. Ya, hal ini tidak perlu dibuktikan secara ilmiah. Mayoritas masyarakat Indonesia saja tidak memahami arti dalam al Qur’an, namun gerakan-gerakan semacam membaca Qur’an bersama, menghafal Qur’an marak digerakkan. Padahal kitab suci lain meskipun sudah diterjemahkan tetap tidak banyak yang membaca. Tapi al Qur’an justru memberikan fakta berbeda.

Kedua, setiap lafadz dalam al Qur’an mempunyai kesesuaian dengan otak manusia. Dalam arti lafadz yang paling mudah melekat di otak manusia. Buktinya, anak kecil yang masih berumur 6 tahun sudah bisa menghafal al Qur’an. Bukti lain, jika Anda membaca sangat cepat berdasarkan hafalan yang dimiliki di kepala, maka kecepatan itu akan mengalahkan hafalan orang lain terhadap sebuah lagi jika dibacakan dengan cepat. Artinya nutrisi paling sesuai dengan otak adalah al Qur’an.

Ketiga, karena al Qur’an sesuai dengan otak manusia, maka bacaan dalam al Qur’an sangat mempengaruhi kecerdasan manusia. Jika Anda belum percaya, coba berada sekelas dengan penghafal al Qur’an, ia akan memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Logikanya, otak terus diberikan nutrisi oleh lafadz-lafadz tersebut. Oleh sebab itu banyak beasiswa bagi anak-anak yang mampu menghafalkan al Quran.

Keempat, Al Qur’an mampu menaikkan kecerdasan manusia. Jika Anda menganggap yang menghafal al Qur’an adalah anak-anak cerdas, maka sebenarnya tidak benar. Sebuah penelitian dilakukan oleh Dr. Masaru Emoto dan Kazuya Ishibashi, bahwa bacaan al Qur’an sangat mempengaruhi kualitas air yang dibacakannya. Hubungannya dengan otak adalah, dalam otak terdapat cairan, jika dibacakan al Qur’an kualitas dari cairan dalam otak tersebut akan meningkat, sehingga kecerdasan pun akan meningkat.

Kelima, Al Qur’an dapat menenangkan pikiran. Dr. Al Qadhi, Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan bacaan al Qur’an memiliki pengaruh lain untuk otak meskipun yang mendengar tidak mengerti arti yang didendangkan (arrahmah.com). Tidak mengherankan jika seringkali ada orang yang mendengarkan al Qur’an sampai menangis, trenyuh.

Mengapa Sejarah Islam Banyak Dihiasi Peperangan?

Sejarah Islam tidak bisa dimungkiri sangat banyak dihiasi dengan peperangan. Mulai dari zaman kenabian hingga pada zaman dinasti khalifah yang berhias dengan sejarah kalah dan menang dalam adu pedang. Persoalan yang sering ditanyakan adalah, bukankah Islam agama yang penuh kedamaian? Namun mengapa banyak perang. Oleh sebab itu harus dipahami betul bagaimana memaknai perang yang ada dalam sejarang Islam.

Terminologi yang sering dicocokkan dengan perang Islam adalah jihad. Padahal Jihad memiliki arti yang tidak terkungkung pada perang saja. Namun lebih kepada perjuangan dalam membela agama. Artinya jika berjuang dengan harta, juga disebut dengan jihad, namun jihad harta. Perang merupakan salah satu medan jihad, taruhannya adalah nyawa. Otomatis ketika berjuang membela Islam, maka yang diperjuangkan adalah kebaikan untuk agama Islam.  Sisi kebaikan dalam perang yang dilakukan oleh Islam sayangnya yang banyak dilupakan.

Islam berperang lebih banyak dilakukan oleh dorongan membela diri, bukan dalam bentuk menyerang. Sejarah awal Islam membuktikan bagaimana muslim disiksa oleh kaum kafir hingga nyawa harus merenggang, siapapun yang mengalaminya pasti akan balas dendam. Namun muslim tidak melakukan balas dendam individu, justru yang dilakukan adalah memerangi agar tidak kembali diganggu.

Buktinya tidak ada penyiksaan dalam Islam ketika berperang. Ada rambu-rambu unik yang harus dipatuhi ketika berperang dalam Islam. Di antaranya tidak boleh membunuh anak, perempuan, orang tua dan orang yang sedang sakit.  Dilarang membunuh pemuka agama, dan penduduk yang tengah beribadah. Dilarang menghancurkan desa dan kota. Jika dilihat dari rambu-rambu ini, maka perang yang dilakukan bukanlah dalam arti penindasan, bahkan tawanan perang pun tidak disiksa, justru dalam Islam dirawat dengan baik. Hal ini bisa dilihat dari buku-buku sejarah. Bahkan Nabi Muhammad Saw. melarang untuk memaksa penduduk berpindah agama.

Kalau demikian untuk apa berperang? Inilah yang harus diketahui. Ketika suatu daerah ditaklukkan, setiap penduduk hanya mengakui bahwa pemerintahan Islam yang sedang memerintah. Secara kehidupan diberikan kebebasan yang setara. Namun kemudian komunitas muslim memberikan contoh dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Hingga pada akhirnya akhlaq muslim yang begitu mulia membuat para penduduk iri, dan ingin menjadi seperti umat muslim.

Oleh sebab itu Islam sangat cepat tersebar,  disebar dengan alasan sebagai pusat kebaikan. Bukan pusat penindasan. Inilah yang pada akhirnya perang dalam Islam disebut dengan pembebasan, karena dibebaskan untuk berbuat seperti sebelumnya, dan dibebaskan untuk memilih akan sikap yang harus dianutnya. Maka wajar begitu cepat Islam tersebar.

Pada periode Umar bin Khattab, umat Islam menguasai Yerussalem tanpa peperangan. Umat Islam justru menjadi penengah dalam pertikaian yang berlarut-larut antara sekte-sekte Kristen di Kanisah al-Qiyamah. Faktanya ketika mayoritas adalah muslim, non muslim merasa nyaman. Coba ketika dibalik, apakah kebebasan dalam beribadah masih bisa dipertahankan? Bolehkah berkerudung?

Mengapa Sejarah Islam Banyak Dihiasi Peperangan?

Posted by Dastan No comments

Sejarah Islam tidak bisa dimungkiri sangat banyak dihiasi dengan peperangan. Mulai dari zaman kenabian hingga pada zaman dinasti khalifah yang berhias dengan sejarah kalah dan menang dalam adu pedang. Persoalan yang sering ditanyakan adalah, bukankah Islam agama yang penuh kedamaian? Namun mengapa banyak perang. Oleh sebab itu harus dipahami betul bagaimana memaknai perang yang ada dalam sejarang Islam.

Terminologi yang sering dicocokkan dengan perang Islam adalah jihad. Padahal Jihad memiliki arti yang tidak terkungkung pada perang saja. Namun lebih kepada perjuangan dalam membela agama. Artinya jika berjuang dengan harta, juga disebut dengan jihad, namun jihad harta. Perang merupakan salah satu medan jihad, taruhannya adalah nyawa. Otomatis ketika berjuang membela Islam, maka yang diperjuangkan adalah kebaikan untuk agama Islam.  Sisi kebaikan dalam perang yang dilakukan oleh Islam sayangnya yang banyak dilupakan.

Islam berperang lebih banyak dilakukan oleh dorongan membela diri, bukan dalam bentuk menyerang. Sejarah awal Islam membuktikan bagaimana muslim disiksa oleh kaum kafir hingga nyawa harus merenggang, siapapun yang mengalaminya pasti akan balas dendam. Namun muslim tidak melakukan balas dendam individu, justru yang dilakukan adalah memerangi agar tidak kembali diganggu.

Buktinya tidak ada penyiksaan dalam Islam ketika berperang. Ada rambu-rambu unik yang harus dipatuhi ketika berperang dalam Islam. Di antaranya tidak boleh membunuh anak, perempuan, orang tua dan orang yang sedang sakit.  Dilarang membunuh pemuka agama, dan penduduk yang tengah beribadah. Dilarang menghancurkan desa dan kota. Jika dilihat dari rambu-rambu ini, maka perang yang dilakukan bukanlah dalam arti penindasan, bahkan tawanan perang pun tidak disiksa, justru dalam Islam dirawat dengan baik. Hal ini bisa dilihat dari buku-buku sejarah. Bahkan Nabi Muhammad Saw. melarang untuk memaksa penduduk berpindah agama.

Kalau demikian untuk apa berperang? Inilah yang harus diketahui. Ketika suatu daerah ditaklukkan, setiap penduduk hanya mengakui bahwa pemerintahan Islam yang sedang memerintah. Secara kehidupan diberikan kebebasan yang setara. Namun kemudian komunitas muslim memberikan contoh dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Hingga pada akhirnya akhlaq muslim yang begitu mulia membuat para penduduk iri, dan ingin menjadi seperti umat muslim.

Oleh sebab itu Islam sangat cepat tersebar,  disebar dengan alasan sebagai pusat kebaikan. Bukan pusat penindasan. Inilah yang pada akhirnya perang dalam Islam disebut dengan pembebasan, karena dibebaskan untuk berbuat seperti sebelumnya, dan dibebaskan untuk memilih akan sikap yang harus dianutnya. Maka wajar begitu cepat Islam tersebar.

Pada periode Umar bin Khattab, umat Islam menguasai Yerussalem tanpa peperangan. Umat Islam justru menjadi penengah dalam pertikaian yang berlarut-larut antara sekte-sekte Kristen di Kanisah al-Qiyamah. Faktanya ketika mayoritas adalah muslim, non muslim merasa nyaman. Coba ketika dibalik, apakah kebebasan dalam beribadah masih bisa dipertahankan? Bolehkah berkerudung?

Sejarah Islam di Jawa

Ada beberapa teori tentang masuknya Islam ke Bumi Nusantara. Pertama, Islam dibawa langsung oleh para pedagang dari Mekkah dan Madinah. Kedua, Islam dibawa juga oleh pedagang namun dari persia. Ketiga, Islam dibawa juga oleh pedagang namun oleh muslim Gujarat India.

Dari beberapa teori tersebut, Islam di Jawa juga sangat cocok jika dikatakan dibawa oleh pedagang. Alasannya Islam masuk di Jawa justru melalui tanah pesisir di Gresik yang berdekatan dengan pelabuhan tempat para pedagang singgah. Di Gresik pula Maulana Malik Ibrahim muncul sebagai penyebar Islam yang selanjutnya dijuluki dengan Sunan Gresik.

Selain Maulana Malik Ibrahim ada juga Syeikh Maulana Ishaq, yang awalnya singgah di Pasai. Maulana Ishaq selanjutnya menikahi putri raja Blambangan, Jawa Timur, yang bernama Prabu Menak Sembuyu. Bisa dibayangkan bagaimana pesatnya penyebaran Islam akibat pernikahan tersebut.

Dari keluarga Maulana Ishaq, selanjutnya lahirlah Raden Paku, atau yang dikenal dengan sebutan Sunan Giri. Namun justru Maulana Ishaq selanjutnya kembali ke Pasai Aceh, oleh sebab itu dalam sejarah Jawa Maulana Ishaq tidak begitu dikenal sebagai seorang Sunan meskipun pengaruh syiar Islamnya sebenarnya luar biasa. Sedangkan Maulana Malik Ibrahim lebih fokus pada penyebaran agama Islam yang selanjutnya disebut sebagai Sunan Gresik.

Surabaya yang terdekat dengan Gresik selanjutnya diwarnai oleh anak Syeikh Ibrahim Asmaraqandi, yaitu Sunan Ampel. Saat itu pula ada Raden Santri dan Raden Burereh. Di buku Islam Pesisir (69) justru tercatat bahwa ketiganya merupakan keponakan dari raja Brawijaya dari raja Majapahit melalui jalur Istri Dwarawati dan Campa. Artinya hampir semua penyebar Islam di Jawa memiliki kedudukan penting. Beberapa penyebar Islam tersebut selanjutnya lebih dikenal sebagai Wali Songo (sembilan), yang menorehkan sejarah Islam di Jawa.

Namun demikian hal yang harus disadari adalah kehebatan penyebaran Islam di Jawa yang begitu pesat. Padahal, sarana transportasi begitu sulit, pulau Jawa sangat luas, namun faktanya ketika VOC datang di abad 15, justru pejuang-pejuang yang melawan penjajahan adalah muslim. Artinya Islam berkembang sangat sistematis.

Salah satu faktor terbesarnya tentu saja adalah politik. Wali Songo yang berjumlah sembilan, rata-rata adalah keluarga kerajaan. Bahkan yang paling mencolok adalah Sunan Giri, ia adalah seorang raja Giri Kedaton bergelar Prabu Satmata. Bahkan peristiwa dinobatkannya Sunan Giri sebagai raja selalu menjadi perayaan hari jadi.

Belum lagi mayoritas sunan bergelar Raden, hanya sunan Gunung Jati dan sunan Gresik saja yang tidak memiliki gelar Raden. Padahal Raden adalah sebuah gelar Istimewa, kebangsaan dalam adat Jawa, Sunda, dan Madura. Artinya hampir semua penyebar Islam di tanah Jawa memiliki darah biru. Oleh sebab itu Islam menjadi berkembang dengan sangat pesat.

Faktor selanjutnya adalah terstrukturnya peta dakwah para wali. Setiap wali memiliki tempat dakwahnya sendiri dan strategis dalam wilayah tersebut. Sunan Ampel di Surabaya, Sunan Gresik di Gresik, Sunan Gunung Jati di Cirebon, dll. Memang sebenarnya Wali Songo dalam wikipedia tercatat sebagai Majelis Dakwah pertama kali yang didirikan oleh Sunan Gresik, wajar jika terlihat sangat terorganisir.

Faktor yang lain adalah masuknya para Wali ke dalam setiap unsur kehidupan masyarakat Jawa, tidak hanya berdakwah. Faktanya para Wali sampai menciptakan lagu, seperti gundul-gundul pacul yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga, gamelan diciptakan oleh Sunan Bonang, artinya seni berdakwah yang dimiliki sangat luar biasa. Oleh sebab itu Wali Songo sangat pantas menjadi rujukan dakwah di pulau Jawa yang mampu merubah penduduk yang awalnya beragama Hindu dan Budha.

Oleh: Ma'mun Affany

Sejarah Islam di Jawa

Posted by Dastan No comments

Ada beberapa teori tentang masuknya Islam ke Bumi Nusantara. Pertama, Islam dibawa langsung oleh para pedagang dari Mekkah dan Madinah. Kedua, Islam dibawa juga oleh pedagang namun dari persia. Ketiga, Islam dibawa juga oleh pedagang namun oleh muslim Gujarat India.

Dari beberapa teori tersebut, Islam di Jawa juga sangat cocok jika dikatakan dibawa oleh pedagang. Alasannya Islam masuk di Jawa justru melalui tanah pesisir di Gresik yang berdekatan dengan pelabuhan tempat para pedagang singgah. Di Gresik pula Maulana Malik Ibrahim muncul sebagai penyebar Islam yang selanjutnya dijuluki dengan Sunan Gresik.

Selain Maulana Malik Ibrahim ada juga Syeikh Maulana Ishaq, yang awalnya singgah di Pasai. Maulana Ishaq selanjutnya menikahi putri raja Blambangan, Jawa Timur, yang bernama Prabu Menak Sembuyu. Bisa dibayangkan bagaimana pesatnya penyebaran Islam akibat pernikahan tersebut.

Dari keluarga Maulana Ishaq, selanjutnya lahirlah Raden Paku, atau yang dikenal dengan sebutan Sunan Giri. Namun justru Maulana Ishaq selanjutnya kembali ke Pasai Aceh, oleh sebab itu dalam sejarah Jawa Maulana Ishaq tidak begitu dikenal sebagai seorang Sunan meskipun pengaruh syiar Islamnya sebenarnya luar biasa. Sedangkan Maulana Malik Ibrahim lebih fokus pada penyebaran agama Islam yang selanjutnya disebut sebagai Sunan Gresik.

Surabaya yang terdekat dengan Gresik selanjutnya diwarnai oleh anak Syeikh Ibrahim Asmaraqandi, yaitu Sunan Ampel. Saat itu pula ada Raden Santri dan Raden Burereh. Di buku Islam Pesisir (69) justru tercatat bahwa ketiganya merupakan keponakan dari raja Brawijaya dari raja Majapahit melalui jalur Istri Dwarawati dan Campa. Artinya hampir semua penyebar Islam di Jawa memiliki kedudukan penting. Beberapa penyebar Islam tersebut selanjutnya lebih dikenal sebagai Wali Songo (sembilan), yang menorehkan sejarah Islam di Jawa.

Namun demikian hal yang harus disadari adalah kehebatan penyebaran Islam di Jawa yang begitu pesat. Padahal, sarana transportasi begitu sulit, pulau Jawa sangat luas, namun faktanya ketika VOC datang di abad 15, justru pejuang-pejuang yang melawan penjajahan adalah muslim. Artinya Islam berkembang sangat sistematis.

Salah satu faktor terbesarnya tentu saja adalah politik. Wali Songo yang berjumlah sembilan, rata-rata adalah keluarga kerajaan. Bahkan yang paling mencolok adalah Sunan Giri, ia adalah seorang raja Giri Kedaton bergelar Prabu Satmata. Bahkan peristiwa dinobatkannya Sunan Giri sebagai raja selalu menjadi perayaan hari jadi.

Belum lagi mayoritas sunan bergelar Raden, hanya sunan Gunung Jati dan sunan Gresik saja yang tidak memiliki gelar Raden. Padahal Raden adalah sebuah gelar Istimewa, kebangsaan dalam adat Jawa, Sunda, dan Madura. Artinya hampir semua penyebar Islam di tanah Jawa memiliki darah biru. Oleh sebab itu Islam menjadi berkembang dengan sangat pesat.

Faktor selanjutnya adalah terstrukturnya peta dakwah para wali. Setiap wali memiliki tempat dakwahnya sendiri dan strategis dalam wilayah tersebut. Sunan Ampel di Surabaya, Sunan Gresik di Gresik, Sunan Gunung Jati di Cirebon, dll. Memang sebenarnya Wali Songo dalam wikipedia tercatat sebagai Majelis Dakwah pertama kali yang didirikan oleh Sunan Gresik, wajar jika terlihat sangat terorganisir.

Faktor yang lain adalah masuknya para Wali ke dalam setiap unsur kehidupan masyarakat Jawa, tidak hanya berdakwah. Faktanya para Wali sampai menciptakan lagu, seperti gundul-gundul pacul yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga, gamelan diciptakan oleh Sunan Bonang, artinya seni berdakwah yang dimiliki sangat luar biasa. Oleh sebab itu Wali Songo sangat pantas menjadi rujukan dakwah di pulau Jawa yang mampu merubah penduduk yang awalnya beragama Hindu dan Budha.

Oleh: Ma'mun Affany

Sejarah Masuknya Islam di Indonesia

Islam dikenal sekarang sebagai salah satu agama terbesar di Indonesia. Yang selalu menjadi pertanyaan adalah sejarah Islam masuk ke Indonesia. Hal ini mengingat bahwa Islam selanjutnya seolah menggantikan agama resmi nusantara ketika itu, yaitu Hindu dan Budha.

Pada dasarnya Islam mulai tersiar sejak 612 M di Mekkah. Artinya jika ada jejak sejarah yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia sebelum tahun tersebut adalah fakta yang tidak benar.
Sayangnya tidak ada yang mengetahui pasti kapan Islam masuk ke Indonesia hingga selanjutnya berkembang beberapa tiga teori besar tentang masuknya Islam ke bumi nusantara.

Pertama, teori Gujarat. Teori ini lebih dipelopori oleh orientalis Snouck Hurgronje yang menyatakan bahwa pada abad 13 Islam masuk dibawa oleh pedagang dari Gujarat, India.

Kedua, teori Persia. Pencetusnya adalah P.A Husein Hidayat. Alasannya masih sama bahwa Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang, namun dari Persia (Iran). Dalihnya adalah kemiripan kebudayaan masyarakat Islam Persia dengan Indonesia.

Ketiga, teori Mekkah. Masih sama dengan pembawa agamanya adalah seorang pedagang, namun justru kali ini pembawanya adalah pedagang asli Arab, bukan dari Persia, ataupun Gujarat. Oleh sebab itu secara tahun lebih cepat, yaitu sekitar abad 7 dan 8. Pendukung teori ini adalah Hamka.

Penulis sendiri cenderung lebih memilih teori yang terakhir karena beberapa alasan. Pertama, kerajaan Samudera Pasai ketika itu sudah memeluk Islam, namun dengan menganut madzhab Syafi’i, sedangkan madzhab tersebut lebih banyak digunakan oleh orang-orang Mekkah dan Madinah. Sedangkan Gujarat lebih condong ke penganut Hanafi.

Kedua, raja-raja Pasai justru memiliki gelar al Malik, bukan khan atau sejenisnya, padahal gelar tersebut lebih banyak digunakan di mesir. Oleh sebab itu datangnya Islam di Indonesia justru dibawa langsung oleh pedagang Arab dari Mekkah dan Madinah.

Faktanya justru di abad 13 politik Islam yang diwakili oleh raja-raja muslim sudah berdiri kokoh hampir di seluruh wilayah Indonesia. Artinya tidak mungkin begitu saja Islam masuk pada abad 13 dan langsung mampu mewarnai seluruh penjuru nusantara yang terbagi ke beragam kepulauan.

Ketiga, Indonesia dikenal sebagai sebuah negara yang sangat strategis untuk transit perdagangan. Pedagang Arab ketika masa pemerintahan Daulah Abbasiyah juga melakukan perdagangan menuju China, dan selanjutnya Indonesia menjadi transit paling nyaman. Dari sinilah selanjutnya Indonesia menjadi salah satu tempat penyebaran agama Islam

Buktinya pada abad 15 di mana VOC mulai menduduki negeri nusantara, pergolakan perlawanan sengit terjadi di mana-mana, dan dilakukan oleh muslim. Contoh, Pangeran Diponegoro di Jawa, dan Malahayati di Aceh.

Oleh: Ma'mun Affany

Sejarah Masuknya Islam di Indonesia

Posted by Dastan No comments

Islam dikenal sekarang sebagai salah satu agama terbesar di Indonesia. Yang selalu menjadi pertanyaan adalah sejarah Islam masuk ke Indonesia. Hal ini mengingat bahwa Islam selanjutnya seolah menggantikan agama resmi nusantara ketika itu, yaitu Hindu dan Budha.

Pada dasarnya Islam mulai tersiar sejak 612 M di Mekkah. Artinya jika ada jejak sejarah yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia sebelum tahun tersebut adalah fakta yang tidak benar.
Sayangnya tidak ada yang mengetahui pasti kapan Islam masuk ke Indonesia hingga selanjutnya berkembang beberapa tiga teori besar tentang masuknya Islam ke bumi nusantara.

Pertama, teori Gujarat. Teori ini lebih dipelopori oleh orientalis Snouck Hurgronje yang menyatakan bahwa pada abad 13 Islam masuk dibawa oleh pedagang dari Gujarat, India.

Kedua, teori Persia. Pencetusnya adalah P.A Husein Hidayat. Alasannya masih sama bahwa Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang, namun dari Persia (Iran). Dalihnya adalah kemiripan kebudayaan masyarakat Islam Persia dengan Indonesia.

Ketiga, teori Mekkah. Masih sama dengan pembawa agamanya adalah seorang pedagang, namun justru kali ini pembawanya adalah pedagang asli Arab, bukan dari Persia, ataupun Gujarat. Oleh sebab itu secara tahun lebih cepat, yaitu sekitar abad 7 dan 8. Pendukung teori ini adalah Hamka.

Penulis sendiri cenderung lebih memilih teori yang terakhir karena beberapa alasan. Pertama, kerajaan Samudera Pasai ketika itu sudah memeluk Islam, namun dengan menganut madzhab Syafi’i, sedangkan madzhab tersebut lebih banyak digunakan oleh orang-orang Mekkah dan Madinah. Sedangkan Gujarat lebih condong ke penganut Hanafi.

Kedua, raja-raja Pasai justru memiliki gelar al Malik, bukan khan atau sejenisnya, padahal gelar tersebut lebih banyak digunakan di mesir. Oleh sebab itu datangnya Islam di Indonesia justru dibawa langsung oleh pedagang Arab dari Mekkah dan Madinah.

Faktanya justru di abad 13 politik Islam yang diwakili oleh raja-raja muslim sudah berdiri kokoh hampir di seluruh wilayah Indonesia. Artinya tidak mungkin begitu saja Islam masuk pada abad 13 dan langsung mampu mewarnai seluruh penjuru nusantara yang terbagi ke beragam kepulauan.

Ketiga, Indonesia dikenal sebagai sebuah negara yang sangat strategis untuk transit perdagangan. Pedagang Arab ketika masa pemerintahan Daulah Abbasiyah juga melakukan perdagangan menuju China, dan selanjutnya Indonesia menjadi transit paling nyaman. Dari sinilah selanjutnya Indonesia menjadi salah satu tempat penyebaran agama Islam

Buktinya pada abad 15 di mana VOC mulai menduduki negeri nusantara, pergolakan perlawanan sengit terjadi di mana-mana, dan dilakukan oleh muslim. Contoh, Pangeran Diponegoro di Jawa, dan Malahayati di Aceh.

Oleh: Ma'mun Affany

back to top