What's New Here?

Mengapa Umat Islam Saling Menyalahkan dan Mengkafirkan?

Di Indonesia muncul sebuah fenomena positif sekaligus negatif bagi umat Islam. Fenomena positif karena semakin banyak muslim yang berlomba untuk kuat-kuatan dalam mempertahankan sunnah rasul, ini sangat luar biasa, karena menjaga sunnah tentu tidak mudah. Fenomena negatif karena justru ketika menemukan seorang muslim yang tidak menjalankan sunnah akan dianggap bukan saudaranya, lebih buruk lagi dikafirkan dari keislamannya. Oleh sebab itu kita harus urai secara arif dua fenomena ini.


Fenomena ini dalam sudut pandang penulis berawal dari gerakan ihya’ sunnah (menghidupkan sunnah). Segala sesuatu yang berhubungan dengan sunnah yang dianjurkan oleh rasul semacam bersiwak dan harus dengan kayu siwak, kemudian dengan berjenggot. Intinya menghidupkan kembali sunah yang sering ditinggalkan, atau sunnah yang diremehkan. Ini adalah gerakan yang sangat baik. 


Tentu saja mereka juga menghidupkan sunnah untuk sesegera mungkin berada di masjid. Kemudian berpuasa senin dan kamis, atau menghidupkan sholat malam.  Namun demikian, mereka akan tampak jelas di hadapan muslim lain karena seringnya penampilan mereka akan terlihat berbeda mengingat yang dihidupkan juga sunnah yang berkaitan dengan cara berpakaian dan penampilan. Dan mereka akan mengamalkannya harus seratus persen sama persis dengan apa yang diamalkan oleh rasul. Kita harus menaruh hormat pada mereka, karena belum banyak orang yang mampu melakukannya.

Uniknya ketika mereka dipandang sebelah mata oleh orang lain, atau terlihat aneh bagi yang lain, dan merasa asing, mereka akan lebih yakin bahwa itulah yang benar-benar dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Dasarnya adalah hadist “Islam ini pada awalnya dianggap aneh dan akan kembali menjadi aneh sebagaimana awalnya dan beruntunglah orang-orang yang dianggap aneh saat itu” (HR. Muslim). Artinya apa yang dilakukan juga mendapatkan justifikasi juga dari hadist.

Masalah besarnya adalah saat kebanggaan untuk mengamalkan hal tersebut justru menimbulkan husnudzon pada pengamalnya bahwa merekalah orang-orang yang paling sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, apalagi sudah mengamalkan benar-benar seratus persen. Sehingga yang terjadi adalah, setiap orang yang ada di luar mereka, atau yang tidak seperti mereka meskipun seorang muslim, dianggap sebagai orang yang rendah dan bukan di golongan mereka.

Inilah yang menjadi satu hal yang kurang berkenan di hati muslim yang lain. Rasa respek kepada mereka dalam hal mengamalkan sunnah yang begitu luar biasa justru mengalahkan akhlaq yang diajarkan oleh rasul untuk menghormati antara satu dengan yang lain. Apalagi rasul juga diutus liutammima makarimal akhlaq, untuk menyempurnakan akhlaq manusia. 

Kalau boleh jujur, faktor utama yang menjadikan Islam berkembang pesat ketika itu adalah akhlaq rasul dan para sahabat yang luar biasa. Mereka memang keras, tapi dalam hal aqidah. “Qul aamantu billah”, katakanlah bahwa aku beriman kepada Allah. Semua sahabat paling keras dalam hal ini, sampai rela dibunuh karena mempertahankan ini. Tapi persoalan hubungan dengan sesama muslim mereka adalah orang-orang yang tidak ada duanya. Bahkan nabi Muhammad mendatangi non muslim yang melemparinya setiap hari dengan kotoran karena tiba-tiba absen tidak melemparinya dengan kotoran. Hati siapa yang tak luluh. Jika kita justru memusuhi sesama muslim, rasanya justru menjadikan Islam melemah dengan permusuhan antar sesama. Prinsipnya jika ada uswah dan orang nyaman di antara kita, mereka pasti akan perlahan-lahan mengikuti kita.

Bahkan lebih fenomenal lagi ketika tidak hanya menyalahkan, namun sampai mengkafirkan sesama muslim. Padahal untuk mengatakan orang lain kafir memiliki kriteria bahwa ia kafir secara niat  karena bertentangan dengan enam rukun iman atau mengingkari ajaran Islam yang “qath’i”. Atau ucapan sebagai bentuk pengakuan penolakan terhadap ajaran Islam. Atau perbuatan, melakukan sesuatu yang benar-benar terindikasi aqidah yang kufur. Di luar ini mereka masih muslim.

Memang hadist tentang keterasingan tadi ada kelanjutannya, “Orang-orang yang tetap berbuat baik dengan sunnahku (mengamalkan sunnahku) sementara manusia merusaknya (meninggalkan sunnah) (HR. Tirmidzi)” maka jika ada ada yang meyakini bahwa berpakaian seperti rasul adalah sunnah rasul yang ingin dihidupkan, maka jangan lupakan sunnah rasul yang menyatakan bahwa diutusnya rasul untuk menyempurnakan akhlaq.  Maka jika ada yang berjubah putih meyakini bahwa itu sunnah rasul dan harus dipakai setiap hari, maka yakini pula sunnah rasul yang menyatakan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.

Seharusnya tuntunan akhlaq rasul seperti saling menghormati, saling menyayangi, bahkan antara satu muslim dengan muslim yang lain seperti bangunan yang saling mengokohkan juga harus dipegang dengan teguh. Sehingga tidak hanya menimbulkan empati karena keteguhan dalam menjalankan sunnah sampai dalam bentuk berpakaian, tapi juga simpati karena akhlaq yang begitu agung.

Saya sampai mendengar cerita ada seseorang yang memang sedang giat menghidupkan sunnah rasul, sangat tampak dari pakaiannya. Selepas salam sholat jum’at ia kemudian langsung melangkah keluar shof yang masih berdzikir dan berdo’a, tanpa terduga kakinya tersangkut di salah satu tubuh jama’ah dan sampai terjatuh. Pasti sudah menjadi pengetahuan umum kita sedikit memohon maaf. Namun orang tersebut tidak, sepertinya jama’ah yang lain bukan dari golongan mereka, dan menjadikan jama’ah tersebut seperti orang asing. Pada akhirnya akhlaq mulia muslim dikalahkan demi ingin dikatakan asing di mata sesama muslim.

Penulis: Ma'mun Affany, M. Ud


Mengapa Umat Islam Saling Menyalahkan dan Mengkafirkan?

Posted by Dastan No comments

Di Indonesia muncul sebuah fenomena positif sekaligus negatif bagi umat Islam. Fenomena positif karena semakin banyak muslim yang berlomba untuk kuat-kuatan dalam mempertahankan sunnah rasul, ini sangat luar biasa, karena menjaga sunnah tentu tidak mudah. Fenomena negatif karena justru ketika menemukan seorang muslim yang tidak menjalankan sunnah akan dianggap bukan saudaranya, lebih buruk lagi dikafirkan dari keislamannya. Oleh sebab itu kita harus urai secara arif dua fenomena ini.


Fenomena ini dalam sudut pandang penulis berawal dari gerakan ihya’ sunnah (menghidupkan sunnah). Segala sesuatu yang berhubungan dengan sunnah yang dianjurkan oleh rasul semacam bersiwak dan harus dengan kayu siwak, kemudian dengan berjenggot. Intinya menghidupkan kembali sunah yang sering ditinggalkan, atau sunnah yang diremehkan. Ini adalah gerakan yang sangat baik. 


Tentu saja mereka juga menghidupkan sunnah untuk sesegera mungkin berada di masjid. Kemudian berpuasa senin dan kamis, atau menghidupkan sholat malam.  Namun demikian, mereka akan tampak jelas di hadapan muslim lain karena seringnya penampilan mereka akan terlihat berbeda mengingat yang dihidupkan juga sunnah yang berkaitan dengan cara berpakaian dan penampilan. Dan mereka akan mengamalkannya harus seratus persen sama persis dengan apa yang diamalkan oleh rasul. Kita harus menaruh hormat pada mereka, karena belum banyak orang yang mampu melakukannya.

Uniknya ketika mereka dipandang sebelah mata oleh orang lain, atau terlihat aneh bagi yang lain, dan merasa asing, mereka akan lebih yakin bahwa itulah yang benar-benar dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Dasarnya adalah hadist “Islam ini pada awalnya dianggap aneh dan akan kembali menjadi aneh sebagaimana awalnya dan beruntunglah orang-orang yang dianggap aneh saat itu” (HR. Muslim). Artinya apa yang dilakukan juga mendapatkan justifikasi juga dari hadist.

Masalah besarnya adalah saat kebanggaan untuk mengamalkan hal tersebut justru menimbulkan husnudzon pada pengamalnya bahwa merekalah orang-orang yang paling sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, apalagi sudah mengamalkan benar-benar seratus persen. Sehingga yang terjadi adalah, setiap orang yang ada di luar mereka, atau yang tidak seperti mereka meskipun seorang muslim, dianggap sebagai orang yang rendah dan bukan di golongan mereka.

Inilah yang menjadi satu hal yang kurang berkenan di hati muslim yang lain. Rasa respek kepada mereka dalam hal mengamalkan sunnah yang begitu luar biasa justru mengalahkan akhlaq yang diajarkan oleh rasul untuk menghormati antara satu dengan yang lain. Apalagi rasul juga diutus liutammima makarimal akhlaq, untuk menyempurnakan akhlaq manusia. 

Kalau boleh jujur, faktor utama yang menjadikan Islam berkembang pesat ketika itu adalah akhlaq rasul dan para sahabat yang luar biasa. Mereka memang keras, tapi dalam hal aqidah. “Qul aamantu billah”, katakanlah bahwa aku beriman kepada Allah. Semua sahabat paling keras dalam hal ini, sampai rela dibunuh karena mempertahankan ini. Tapi persoalan hubungan dengan sesama muslim mereka adalah orang-orang yang tidak ada duanya. Bahkan nabi Muhammad mendatangi non muslim yang melemparinya setiap hari dengan kotoran karena tiba-tiba absen tidak melemparinya dengan kotoran. Hati siapa yang tak luluh. Jika kita justru memusuhi sesama muslim, rasanya justru menjadikan Islam melemah dengan permusuhan antar sesama. Prinsipnya jika ada uswah dan orang nyaman di antara kita, mereka pasti akan perlahan-lahan mengikuti kita.

Bahkan lebih fenomenal lagi ketika tidak hanya menyalahkan, namun sampai mengkafirkan sesama muslim. Padahal untuk mengatakan orang lain kafir memiliki kriteria bahwa ia kafir secara niat  karena bertentangan dengan enam rukun iman atau mengingkari ajaran Islam yang “qath’i”. Atau ucapan sebagai bentuk pengakuan penolakan terhadap ajaran Islam. Atau perbuatan, melakukan sesuatu yang benar-benar terindikasi aqidah yang kufur. Di luar ini mereka masih muslim.

Memang hadist tentang keterasingan tadi ada kelanjutannya, “Orang-orang yang tetap berbuat baik dengan sunnahku (mengamalkan sunnahku) sementara manusia merusaknya (meninggalkan sunnah) (HR. Tirmidzi)” maka jika ada ada yang meyakini bahwa berpakaian seperti rasul adalah sunnah rasul yang ingin dihidupkan, maka jangan lupakan sunnah rasul yang menyatakan bahwa diutusnya rasul untuk menyempurnakan akhlaq.  Maka jika ada yang berjubah putih meyakini bahwa itu sunnah rasul dan harus dipakai setiap hari, maka yakini pula sunnah rasul yang menyatakan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.

Seharusnya tuntunan akhlaq rasul seperti saling menghormati, saling menyayangi, bahkan antara satu muslim dengan muslim yang lain seperti bangunan yang saling mengokohkan juga harus dipegang dengan teguh. Sehingga tidak hanya menimbulkan empati karena keteguhan dalam menjalankan sunnah sampai dalam bentuk berpakaian, tapi juga simpati karena akhlaq yang begitu agung.

Saya sampai mendengar cerita ada seseorang yang memang sedang giat menghidupkan sunnah rasul, sangat tampak dari pakaiannya. Selepas salam sholat jum’at ia kemudian langsung melangkah keluar shof yang masih berdzikir dan berdo’a, tanpa terduga kakinya tersangkut di salah satu tubuh jama’ah dan sampai terjatuh. Pasti sudah menjadi pengetahuan umum kita sedikit memohon maaf. Namun orang tersebut tidak, sepertinya jama’ah yang lain bukan dari golongan mereka, dan menjadikan jama’ah tersebut seperti orang asing. Pada akhirnya akhlaq mulia muslim dikalahkan demi ingin dikatakan asing di mata sesama muslim.

Penulis: Ma'mun Affany, M. Ud


Membedakan Antara Adzab dan Karma

Istilah hukum karma di Indonesia tergolong populer, bahkan kepopulerannya menjadikan istilah tersebut dilupakan berasal dari ajaran penting dalam agama Dharma (Budha dan Hindu). Biasanya istilah ini terjadi ketika seseorang tertimpa sesuatu yang buruk, kemudian dikatakan, “Bisa jadi kamu terkena karma”. Yang sering ditanyakan biasanya adalah apa perbedaan antara hukum karma dan adzab?

Karma merupakan sebuah keyakinan tentang hukum sebab akibat. Mirip semacam hukum aksi dan reaksi. Bunyinya seperti ini, “Dengan adanya ini, terjadilah itu. Dengan timbulnya ini, timbulah itu. Dengan tidak adanya ini, maka tidak ada itu. Dengan lenyapnya ini, maka lenyaplah itu.” (Khuddhaka Nikaya, Udana 40)

Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa segala sesuatu yang ada di alam tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Semua terjadi pasti memiliki sebabnya. Baik secara kosmis yang menyangkut alam semesta, maupun secara moril yang menyangkut manusia. Semua berputar selalu dalam hukum sebab akibat.

Oleh sebab itu ketika manusia mendapatkan sebuah musibah keburukan, maka hal tersebut diyakini sebagai karma dari perbuatan buruk yang lalu. Pada konsep seperti ini Tuhan pada akhirnya mengikuti filsafat yang dikembangkan oleh Thomas Aquinas dan Martin Luther yang melihat bahwa Tuhan menciptakan alam dan membiarkannya berputar seperti tukang jam menciptakan jam tangan dan dibiarkan berdetak sendiri. Hal ini sering disebut dengan Deus Otious.

Bahkan kelahiran manusia atau segala sesuatu di alam juga dipengaruhi oleh hukum karma. Untuk lebih mudah memahami ini lebih baik memahami pola reinkarnasi. Manusia akan terus terlahir kembali selama masih melakukan keburukan. Ia hanya akan berhenti dari reinkarnasi jika sudah mencapai taraf kebaikan yang sempurna. Karma dalam aspek moral memiliki kemiripan seperti ini. Terutama dalam perbuatan buruk yang selalu mendapatkan balasan keburukan suatu hari nanti di dunia.

Di Islam memang ada yang mirip, hukum karma seperti ini sering disebut dengan balasan di dunia. Dalam al Qur’an dijelaskan “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).“  (QS. 30:41)

Namun demikian perbedaan paling menonjol adalah dalam bentuk balasan yang diberikan atas apa yang dilakukan oleh manusia. Dalam Islam, tidak semua perbuatan buruk dibalas di dunia. Jika demikian, maka orang jahat tidak akan hidup nyaman di dunia. Pencuri suatu hari akan mendapatkan balasan curian yang besar. Tapi kenyataannya tidak. Kenyataannya justru banyak orang baik yang hidup diperlakukan dengan tidak baik.

Memang dalam agama Dharma hal ini akan dibantah dengan adanya proses reinkarnasi. Namun proses reinkarnasi karena keburukan menjadi hewan tidak bisa dimengerti. Bagaimana proses tersebut terjadi dalam dua jenis makhluk yang berbeda. Ini sebenarnya mitos yang berlaku pada kutukan yang umum beredar. Kalaupun terus menjadi manusia. Kenyataannya tidak ada yang benar-benar menjamin bahwa si A hadir dalam si B di satu hari kelak. Sifat, kepribadian, dan lain sebagainya setiap manusia tidak pernah identik meski wajah identik.

Dalam Islam balasan di dunia hanya secuil dari balasan yang ada di akhirat. Oleh sebab itu di dalam agama Islam fungsi neraka dan surga berjalan benar-benar sebagai balasan dari apa yang sudah dilakukan di dunia. Islam mengenal istilah bahwa di dunia adalah tempat berbuat, di akhirat adalah tempat untuk mendapatkan balasannya. Dan setiap orang akan kekal di dalamnya.

Dalam agama Dharma fungsi neraka dan surga memang sedikit berbeda. Ia adalah tempat singgah dari ruh yang akan bereinkarnasi. Istilahnya ruh tersebut akan dicuci terlebih dahulu di neraka sebelum dimasukkan lagi dalam bentuk jasad yang lain. Surga juga demikian. Maka, fungsi antara surga dan neraka yang menjadikan perbedaan dalam hukum karma di agama Dharma, dan balasan di dunia dalam agama Islam.

Sehingga dalam Islam tidak ada yang disebut karma. Maka wajar banyak orang jahat tetap hidup dengan nyaman dengan kejahatannya, karena balasannya adalah neraka. Juga banyak orang baik yang hidupnya justru teraniaya, miskin, namun balasannya di surga nanti kekal.

Oleh sebab itu dalam Islam sering diingatkan tentang fungsi dunia sebagai ladang cobaan. Siapa yang berbuat baik di dunia, akan dibalas di akhirat dengan kebaikan yang sama pula, begitu juga sebaliknya. Maka bisa jadi orang hidup bahagia di dunia justru masuk neraka, orang susah di dunia justru masuk surga. Wajar jika kemudian beredar stigma “Hidup mulia mati masuk surga”.

Penulis: Ma'mun Affany, M. Ud

Membedakan Antara Adzab dan Karma

Posted by Dastan No comments

Istilah hukum karma di Indonesia tergolong populer, bahkan kepopulerannya menjadikan istilah tersebut dilupakan berasal dari ajaran penting dalam agama Dharma (Budha dan Hindu). Biasanya istilah ini terjadi ketika seseorang tertimpa sesuatu yang buruk, kemudian dikatakan, “Bisa jadi kamu terkena karma”. Yang sering ditanyakan biasanya adalah apa perbedaan antara hukum karma dan adzab?

Karma merupakan sebuah keyakinan tentang hukum sebab akibat. Mirip semacam hukum aksi dan reaksi. Bunyinya seperti ini, “Dengan adanya ini, terjadilah itu. Dengan timbulnya ini, timbulah itu. Dengan tidak adanya ini, maka tidak ada itu. Dengan lenyapnya ini, maka lenyaplah itu.” (Khuddhaka Nikaya, Udana 40)

Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa segala sesuatu yang ada di alam tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Semua terjadi pasti memiliki sebabnya. Baik secara kosmis yang menyangkut alam semesta, maupun secara moril yang menyangkut manusia. Semua berputar selalu dalam hukum sebab akibat.

Oleh sebab itu ketika manusia mendapatkan sebuah musibah keburukan, maka hal tersebut diyakini sebagai karma dari perbuatan buruk yang lalu. Pada konsep seperti ini Tuhan pada akhirnya mengikuti filsafat yang dikembangkan oleh Thomas Aquinas dan Martin Luther yang melihat bahwa Tuhan menciptakan alam dan membiarkannya berputar seperti tukang jam menciptakan jam tangan dan dibiarkan berdetak sendiri. Hal ini sering disebut dengan Deus Otious.

Bahkan kelahiran manusia atau segala sesuatu di alam juga dipengaruhi oleh hukum karma. Untuk lebih mudah memahami ini lebih baik memahami pola reinkarnasi. Manusia akan terus terlahir kembali selama masih melakukan keburukan. Ia hanya akan berhenti dari reinkarnasi jika sudah mencapai taraf kebaikan yang sempurna. Karma dalam aspek moral memiliki kemiripan seperti ini. Terutama dalam perbuatan buruk yang selalu mendapatkan balasan keburukan suatu hari nanti di dunia.

Di Islam memang ada yang mirip, hukum karma seperti ini sering disebut dengan balasan di dunia. Dalam al Qur’an dijelaskan “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).“  (QS. 30:41)

Namun demikian perbedaan paling menonjol adalah dalam bentuk balasan yang diberikan atas apa yang dilakukan oleh manusia. Dalam Islam, tidak semua perbuatan buruk dibalas di dunia. Jika demikian, maka orang jahat tidak akan hidup nyaman di dunia. Pencuri suatu hari akan mendapatkan balasan curian yang besar. Tapi kenyataannya tidak. Kenyataannya justru banyak orang baik yang hidup diperlakukan dengan tidak baik.

Memang dalam agama Dharma hal ini akan dibantah dengan adanya proses reinkarnasi. Namun proses reinkarnasi karena keburukan menjadi hewan tidak bisa dimengerti. Bagaimana proses tersebut terjadi dalam dua jenis makhluk yang berbeda. Ini sebenarnya mitos yang berlaku pada kutukan yang umum beredar. Kalaupun terus menjadi manusia. Kenyataannya tidak ada yang benar-benar menjamin bahwa si A hadir dalam si B di satu hari kelak. Sifat, kepribadian, dan lain sebagainya setiap manusia tidak pernah identik meski wajah identik.

Dalam Islam balasan di dunia hanya secuil dari balasan yang ada di akhirat. Oleh sebab itu di dalam agama Islam fungsi neraka dan surga berjalan benar-benar sebagai balasan dari apa yang sudah dilakukan di dunia. Islam mengenal istilah bahwa di dunia adalah tempat berbuat, di akhirat adalah tempat untuk mendapatkan balasannya. Dan setiap orang akan kekal di dalamnya.

Dalam agama Dharma fungsi neraka dan surga memang sedikit berbeda. Ia adalah tempat singgah dari ruh yang akan bereinkarnasi. Istilahnya ruh tersebut akan dicuci terlebih dahulu di neraka sebelum dimasukkan lagi dalam bentuk jasad yang lain. Surga juga demikian. Maka, fungsi antara surga dan neraka yang menjadikan perbedaan dalam hukum karma di agama Dharma, dan balasan di dunia dalam agama Islam.

Sehingga dalam Islam tidak ada yang disebut karma. Maka wajar banyak orang jahat tetap hidup dengan nyaman dengan kejahatannya, karena balasannya adalah neraka. Juga banyak orang baik yang hidupnya justru teraniaya, miskin, namun balasannya di surga nanti kekal.

Oleh sebab itu dalam Islam sering diingatkan tentang fungsi dunia sebagai ladang cobaan. Siapa yang berbuat baik di dunia, akan dibalas di akhirat dengan kebaikan yang sama pula, begitu juga sebaliknya. Maka bisa jadi orang hidup bahagia di dunia justru masuk neraka, orang susah di dunia justru masuk surga. Wajar jika kemudian beredar stigma “Hidup mulia mati masuk surga”.

Penulis: Ma'mun Affany, M. Ud

Di Mana Perbedaan Qurban dan Larung?

Idul Adha selalu identik dengan penyembelihan hewan qurban. Bahkan rasanya tidak afdol jika ada sebuah masjid tidak ada yang berkurban. Namun demikian yang sering ditanyakan adalah apa perbedaan antara penyembelihan hewan qurban sebagai sebuah ibadah, dengan penyembelihan hewan untuk sesajen dan ibadah yang lainnya?

Qurban sebenarnya diambil dari bahasa arab yang berarti kedekatan. Maksudnya dekat dalam arti ketika sebagai penyembah semakin banyak beribadah kepada yang disembah, maka ia akan menjadi semakin dekat.  Atau dalam arti lain sesuatu yang menjadi perantara dalam mendekatkan diri kepada Allah. Keikhlasan hamba dalam memberikan hewan adalah perantaranya.

Uniknya belum ada penjelasan kalau sudah sekali dilakukan, cukup, seperti haji. Namun lebih dijelaskan, jika memang mampu untuk berkurban, maka berkurbanlah. Sehingga jika memiliki uang banyak, setiap tahun hendaknya berkurban. Padahal harga kambing, kerbau, dan sapi cukup mahal. Maka tidak ada yang diharapkan seorang hamba ketika berkurban selain kedekatan kepada Allah. Bahkan yang miskin pun terkadang bercita-cita untuk berkurban, meski harus ini dan itu, ingin lebih dekat.

Nilai ibadah qurban yang sedemikian besar tidak sebanding jika hanya dibandingkan dengan penyembelihan hewan untuk sesajen. Ibadah hewan untuk sesajen tidak dilakukan personal, kolektif. Iuran untuk membeli kambing untuk dilarung, atau sapi untuk disembelih, bisa dilakukan oleh sekian banyak orang. Artinya nilai untuk larung menjadi sangat kecil, bisa jadi setiap orang di masyarakat iuran cukup seratus ribu, atau lima puluh ribu yang ditanggung masyarakat bersama. Bahkan dalam sesajen biasanya cukup ayam hitam. Yang penting menyembahkan sesuatu.

Qurban dalam idul adha memang bisa kolektif pada hewan sapi. Namun dijelaskan hanya untuk tujuh orang. Maka jika dibagi harga sapi dengan tujuh, hasilnya adalah setara satu harga kambing. Maka dalam Islam tidak akan disebut qurban jika tidak setara dengan satu kambing. Kecintaan kepada Allah benar-benar diuji.

Dalam ritual larung, yang mendasarinya biasanya ada dua. Pertama, kesyukuran atas hasil panen laut, panen bumi, atau semacamnya terhadap ratu ini, dewa ini dan itu. Kedua, ketakukan akan permintaan tumbal dari ratu, dewa ini dan itu. Bahkan dasar yang pertama dilakukan biasanya untuk menghindari yang kedua. Kita harus melarung kambing agar ratu atau dewa tidak marah dan tidak memakan tumbal.

Di sini sebenarnya ada kejanggalan yang sangat besar. Yang dipersembahkan dalam larung bukan ibadah, tapi hewan itu sendiri kepada sang Ratu atau Dewa Dewi. Ini artinya justru merendahkan sang ratu dan dewa dewi pada derajat manusia. Mereka seolah-seolah digambarkan harus dipersembahkan kepala untuk dimakan, atau emosional karena harus diberikan ini dan itu, jika tidak akan meminta tumbal dari manusia. Hal ini ibarat anak kecil yang tidak diberi permen, maka marah membanting piring.

Kalaupun maksudnya untuk ibadah karena menilai keikhlasan dalam mengeluarkan harta yang dicinta, maka hal ini tidak bernilai jika dibanding qurban umat Islam yang setiap orang harus mengeluarkan seharga satu kambing, itu pun tidak boleh kambing muda. Sedangkan dalam larung dan sesaji, hewan yang dipersembahkan bisa hasil dari iuran bersama satu kampung.

Maksud kecintaan ibadah dalam qurban idul adha juga bisa tercermin dari daging yang dibagikan untuk umat muslim. Inilah salah satu nilai tinggi qurban, membagi kebahagiaan kepada sesama muslim, selain menjadikan penyembelihan bukti cinta kepada Allah. Tidak ada orang yang mau melihat sapi yang begitu mahal dibeli, ternyata hanya untuk dibagikan tetangga, kecuali karena cinta yang begitu besar kepada Allah SWT.

Dalam sesajen, ayam yang disembelih sangatlah sakral. Tidak boleh dimakan, dan dibiarkan seolah agar sang Kuasa memakannya. Jika kemudian tiba-tiba hilang, bahagianya luar biasa, karena dikira sudah diambil para dewa. Jika ternyata membusuk, itu juga akan diartikan sudah dimakan para dewa, bukan memahaminya sebagai proses alam yang wajar.

Di Mana Perbedaan Qurban dan Larung?

Posted by Dastan No comments

Idul Adha selalu identik dengan penyembelihan hewan qurban. Bahkan rasanya tidak afdol jika ada sebuah masjid tidak ada yang berkurban. Namun demikian yang sering ditanyakan adalah apa perbedaan antara penyembelihan hewan qurban sebagai sebuah ibadah, dengan penyembelihan hewan untuk sesajen dan ibadah yang lainnya?

Qurban sebenarnya diambil dari bahasa arab yang berarti kedekatan. Maksudnya dekat dalam arti ketika sebagai penyembah semakin banyak beribadah kepada yang disembah, maka ia akan menjadi semakin dekat.  Atau dalam arti lain sesuatu yang menjadi perantara dalam mendekatkan diri kepada Allah. Keikhlasan hamba dalam memberikan hewan adalah perantaranya.

Uniknya belum ada penjelasan kalau sudah sekali dilakukan, cukup, seperti haji. Namun lebih dijelaskan, jika memang mampu untuk berkurban, maka berkurbanlah. Sehingga jika memiliki uang banyak, setiap tahun hendaknya berkurban. Padahal harga kambing, kerbau, dan sapi cukup mahal. Maka tidak ada yang diharapkan seorang hamba ketika berkurban selain kedekatan kepada Allah. Bahkan yang miskin pun terkadang bercita-cita untuk berkurban, meski harus ini dan itu, ingin lebih dekat.

Nilai ibadah qurban yang sedemikian besar tidak sebanding jika hanya dibandingkan dengan penyembelihan hewan untuk sesajen. Ibadah hewan untuk sesajen tidak dilakukan personal, kolektif. Iuran untuk membeli kambing untuk dilarung, atau sapi untuk disembelih, bisa dilakukan oleh sekian banyak orang. Artinya nilai untuk larung menjadi sangat kecil, bisa jadi setiap orang di masyarakat iuran cukup seratus ribu, atau lima puluh ribu yang ditanggung masyarakat bersama. Bahkan dalam sesajen biasanya cukup ayam hitam. Yang penting menyembahkan sesuatu.

Qurban dalam idul adha memang bisa kolektif pada hewan sapi. Namun dijelaskan hanya untuk tujuh orang. Maka jika dibagi harga sapi dengan tujuh, hasilnya adalah setara satu harga kambing. Maka dalam Islam tidak akan disebut qurban jika tidak setara dengan satu kambing. Kecintaan kepada Allah benar-benar diuji.

Dalam ritual larung, yang mendasarinya biasanya ada dua. Pertama, kesyukuran atas hasil panen laut, panen bumi, atau semacamnya terhadap ratu ini, dewa ini dan itu. Kedua, ketakukan akan permintaan tumbal dari ratu, dewa ini dan itu. Bahkan dasar yang pertama dilakukan biasanya untuk menghindari yang kedua. Kita harus melarung kambing agar ratu atau dewa tidak marah dan tidak memakan tumbal.

Di sini sebenarnya ada kejanggalan yang sangat besar. Yang dipersembahkan dalam larung bukan ibadah, tapi hewan itu sendiri kepada sang Ratu atau Dewa Dewi. Ini artinya justru merendahkan sang ratu dan dewa dewi pada derajat manusia. Mereka seolah-seolah digambarkan harus dipersembahkan kepala untuk dimakan, atau emosional karena harus diberikan ini dan itu, jika tidak akan meminta tumbal dari manusia. Hal ini ibarat anak kecil yang tidak diberi permen, maka marah membanting piring.

Kalaupun maksudnya untuk ibadah karena menilai keikhlasan dalam mengeluarkan harta yang dicinta, maka hal ini tidak bernilai jika dibanding qurban umat Islam yang setiap orang harus mengeluarkan seharga satu kambing, itu pun tidak boleh kambing muda. Sedangkan dalam larung dan sesaji, hewan yang dipersembahkan bisa hasil dari iuran bersama satu kampung.

Maksud kecintaan ibadah dalam qurban idul adha juga bisa tercermin dari daging yang dibagikan untuk umat muslim. Inilah salah satu nilai tinggi qurban, membagi kebahagiaan kepada sesama muslim, selain menjadikan penyembelihan bukti cinta kepada Allah. Tidak ada orang yang mau melihat sapi yang begitu mahal dibeli, ternyata hanya untuk dibagikan tetangga, kecuali karena cinta yang begitu besar kepada Allah SWT.

Dalam sesajen, ayam yang disembelih sangatlah sakral. Tidak boleh dimakan, dan dibiarkan seolah agar sang Kuasa memakannya. Jika kemudian tiba-tiba hilang, bahagianya luar biasa, karena dikira sudah diambil para dewa. Jika ternyata membusuk, itu juga akan diartikan sudah dimakan para dewa, bukan memahaminya sebagai proses alam yang wajar.

Mengapa Al Qur’an Berbahasa Arab?

Pertanyaan ini sering sekali ditanyakan oleh pemerhati Islam dan yang ingin belajar Islam lebih mendalam. Hal ini mengingat jika Al Qur’an berbahasa arab, maka hanya cocok di arab, tidak di jawa, Indonesia, atau di rumpun melayu. Tapi cobalah sedikit sejenak mengurai secara baik alasannya?

Khalil bin Ahmad  yang hidup di tahun 796 M membuktikan kekayaan bahasa arab dari struktur huruf penyusun katanya. Ia mensurvei dan menghitung kata-kata dalam bahasa arab serta menemukan 1.235.412 kata. Sangat kaya sekali.

Bahkan meskipun hanya tersusun dua huruf saja, bahasa arab mampu membentuk 750 kata darinya, bandingkan dengan bahasa lain yang jika tersusun dari dua kata, tidak lebih dari 50, in on at adalah sedikit contohnya.

Belum lagi yang tersusun dengan tiga huruf, bahasa arab mampu membuat 19.650 kat, wow. Padahal bahasa arab bisa sampai lima huruf, dan dari lima huruf tersebut, tersusun sampai 6.375.600 kata. Sulit bagi bahasa lain untuk menandinginya.

Salah satu rahasianya adalah adanya harakat dalam bahasa arab. Perbedaan harakat kecil saja mampu mempengaruhi artinya, bahkan jika sedikit panjang dan pendek dalam melafalkannya juga akan merubah artinya. Dari penjelasan ini dapat dimengerti jika bahasa arab mempunyai kemampuan luar biasa untuk melahirkan makna-makna baru dari akar kata yang dimilikinya.

Bahasa arab juga sangat kaya dalam pemecahan “Jenis kelamin” atau pada bilangan yang ditunjuknya-tunggal, jamak, dan dual, atau pada banyak macam masa yang digunakannya-kini, lampau, akan datang, bersinambungan, dan sebagainya- tetapi juga terdapat kekayaan dalam kosakata dan sinonimnya.

Contoh, kata yang bermakna singa ditemukan sebanyak tidak kurang dari 500 kata, ular 200 kata. Menurut De’ Hemmaer, ada 5.644 kata yang menunjuk pada unta dan aneka macam jenis dan keadaannya.  Oleh sebab itu pantas kiranya mengatakan bahwa bahasa arab adalah bahasa paling beradab dan paling tinggi kedudukannya.

Sehingga penyifatan al Qur’an dengan kata Arabiyyan (Qur’an berbahasa arab), disamping sebagai penjelasan yang mengandung pujian terhadap kitab suci ini, juga sebagai sebuah keterangan bahwa dengan begitu berat kandungan yang ada di dalamnya hanya bahasa arablah yang mampu menerangkannya.


Thabathaba’I berpendapat bahwa kalam Allah itu tidak terjangkau bagi akal manusia, secerdas apapun, dank arena itulah maka Allah “Menjadikannya” dalam bahasa arab. Kesan ini dikuatkan oleh ayat yang menyatakan bahwa: dan sesungguhnya dia ada dalam induk al Kitab di sisi kami”. Artinya kalam ilahi sesungguhnya tidak terjangkau oleh nalar sehingga dibutuhkan suatu bahasa yang kaya untuk memahamkannya.

Mengapa Al Qur’an Berbahasa Arab?

Posted by Dastan No comments

Pertanyaan ini sering sekali ditanyakan oleh pemerhati Islam dan yang ingin belajar Islam lebih mendalam. Hal ini mengingat jika Al Qur’an berbahasa arab, maka hanya cocok di arab, tidak di jawa, Indonesia, atau di rumpun melayu. Tapi cobalah sedikit sejenak mengurai secara baik alasannya?

Khalil bin Ahmad  yang hidup di tahun 796 M membuktikan kekayaan bahasa arab dari struktur huruf penyusun katanya. Ia mensurvei dan menghitung kata-kata dalam bahasa arab serta menemukan 1.235.412 kata. Sangat kaya sekali.

Bahkan meskipun hanya tersusun dua huruf saja, bahasa arab mampu membentuk 750 kata darinya, bandingkan dengan bahasa lain yang jika tersusun dari dua kata, tidak lebih dari 50, in on at adalah sedikit contohnya.

Belum lagi yang tersusun dengan tiga huruf, bahasa arab mampu membuat 19.650 kat, wow. Padahal bahasa arab bisa sampai lima huruf, dan dari lima huruf tersebut, tersusun sampai 6.375.600 kata. Sulit bagi bahasa lain untuk menandinginya.

Salah satu rahasianya adalah adanya harakat dalam bahasa arab. Perbedaan harakat kecil saja mampu mempengaruhi artinya, bahkan jika sedikit panjang dan pendek dalam melafalkannya juga akan merubah artinya. Dari penjelasan ini dapat dimengerti jika bahasa arab mempunyai kemampuan luar biasa untuk melahirkan makna-makna baru dari akar kata yang dimilikinya.

Bahasa arab juga sangat kaya dalam pemecahan “Jenis kelamin” atau pada bilangan yang ditunjuknya-tunggal, jamak, dan dual, atau pada banyak macam masa yang digunakannya-kini, lampau, akan datang, bersinambungan, dan sebagainya- tetapi juga terdapat kekayaan dalam kosakata dan sinonimnya.

Contoh, kata yang bermakna singa ditemukan sebanyak tidak kurang dari 500 kata, ular 200 kata. Menurut De’ Hemmaer, ada 5.644 kata yang menunjuk pada unta dan aneka macam jenis dan keadaannya.  Oleh sebab itu pantas kiranya mengatakan bahwa bahasa arab adalah bahasa paling beradab dan paling tinggi kedudukannya.

Sehingga penyifatan al Qur’an dengan kata Arabiyyan (Qur’an berbahasa arab), disamping sebagai penjelasan yang mengandung pujian terhadap kitab suci ini, juga sebagai sebuah keterangan bahwa dengan begitu berat kandungan yang ada di dalamnya hanya bahasa arablah yang mampu menerangkannya.


Thabathaba’I berpendapat bahwa kalam Allah itu tidak terjangkau bagi akal manusia, secerdas apapun, dank arena itulah maka Allah “Menjadikannya” dalam bahasa arab. Kesan ini dikuatkan oleh ayat yang menyatakan bahwa: dan sesungguhnya dia ada dalam induk al Kitab di sisi kami”. Artinya kalam ilahi sesungguhnya tidak terjangkau oleh nalar sehingga dibutuhkan suatu bahasa yang kaya untuk memahamkannya.

Biodata Ma'mun Affany

Lahir di Tegal 21 September 1986. Berpendidikan di Gontor dari santri hingga jenjang S2 pada jurusan aqidah dan filsafat pada tahun 2012. Ia juga mengikuti Program Kaderisasi Ulama (PKU) yang diadakan oleh gontor bekerjasama dengan MUI Pusat.

Kegiatannya sehari-hari mengelola manajemen Yayasan Bina Qalam Indonesia. Sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang penulisan. Menjadi dai perkotaan dari lembaga dana sosial al falah (YDSF) Surabaya. Juga mengisi di beragam seminar.

Pendekatan dari penulis memang lebih kepada menghadirkan Islam dari sudut pandang rasional. Dasar pendidikannya dalam bidang filsafat menjadikannya memiliki basis logika yang baik. Oleh sebab itu banyak rahasia Islam yang diungkap dalam tulisan-tulisan yang ringan.

Karya:
  1. Salah satu penulis dalam "Kritik Terhadap Model Pembacaan Kontemporer"
  2. Catatan Muslimah Sebelum Menikah
  3. Adzan Subuh Mengempas Cinta (Novel)
  4. Kehormatan di Balik Kerudung (Novel)
  5. 29 Juz Harga Wanita (Novel)
  6. Satu Wasiat Istri Untuk Lelaki (Novel)
  7. Cemburu di Hati Penjara Suci (Novel)
  8. Doa Anak Jalanan (Novel)
  9. Resep Ajaib Menulis Novel
Jika ingin konsultasi dengan penulis bisa melalui Pin 56C7E212.

Biodata Ma'mun Affany

Posted by Dastan No comments

Lahir di Tegal 21 September 1986. Berpendidikan di Gontor dari santri hingga jenjang S2 pada jurusan aqidah dan filsafat pada tahun 2012. Ia juga mengikuti Program Kaderisasi Ulama (PKU) yang diadakan oleh gontor bekerjasama dengan MUI Pusat.

Kegiatannya sehari-hari mengelola manajemen Yayasan Bina Qalam Indonesia. Sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang penulisan. Menjadi dai perkotaan dari lembaga dana sosial al falah (YDSF) Surabaya. Juga mengisi di beragam seminar.

Pendekatan dari penulis memang lebih kepada menghadirkan Islam dari sudut pandang rasional. Dasar pendidikannya dalam bidang filsafat menjadikannya memiliki basis logika yang baik. Oleh sebab itu banyak rahasia Islam yang diungkap dalam tulisan-tulisan yang ringan.

Karya:
  1. Salah satu penulis dalam "Kritik Terhadap Model Pembacaan Kontemporer"
  2. Catatan Muslimah Sebelum Menikah
  3. Adzan Subuh Mengempas Cinta (Novel)
  4. Kehormatan di Balik Kerudung (Novel)
  5. 29 Juz Harga Wanita (Novel)
  6. Satu Wasiat Istri Untuk Lelaki (Novel)
  7. Cemburu di Hati Penjara Suci (Novel)
  8. Doa Anak Jalanan (Novel)
  9. Resep Ajaib Menulis Novel
Jika ingin konsultasi dengan penulis bisa melalui Pin 56C7E212.

Mengapa Sejarah Islam Banyak Dihiasi Peperangan?

Sejarah Islam tidak bisa dimungkiri sangat banyak dihiasi dengan peperangan. Mulai dari zaman kenabian hingga pada zaman dinasti khalifah yang berhias dengan sejarah kalah dan menang dalam adu pedang. Persoalan yang sering ditanyakan adalah, bukankah Islam agama yang penuh kedamaian? Namun mengapa banyak perang. Oleh sebab itu harus dipahami betul bagaimana memaknai perang yang ada dalam sejarang Islam.

Terminologi yang sering dicocokkan dengan perang Islam adalah jihad. Padahal Jihad memiliki arti yang tidak terkungkung pada perang saja. Namun lebih kepada perjuangan dalam membela agama. Artinya jika berjuang dengan harta, juga disebut dengan jihad, namun jihad harta. Perang merupakan salah satu medan jihad, taruhannya adalah nyawa. Otomatis ketika berjuang membela Islam, maka yang diperjuangkan adalah kebaikan untuk agama Islam.  Sisi kebaikan dalam perang yang dilakukan oleh Islam sayangnya yang banyak dilupakan.

Islam berperang lebih banyak dilakukan oleh dorongan membela diri, bukan dalam bentuk menyerang. Sejarah awal Islam membuktikan bagaimana muslim disiksa oleh kaum kafir hingga nyawa harus merenggang, siapapun yang mengalaminya pasti akan balas dendam. Namun muslim tidak melakukan balas dendam individu, justru yang dilakukan adalah memerangi agar tidak kembali diganggu.

Buktinya tidak ada penyiksaan dalam Islam ketika berperang. Ada rambu-rambu unik yang harus dipatuhi ketika berperang dalam Islam. Di antaranya tidak boleh membunuh anak, perempuan, orang tua dan orang yang sedang sakit.  Dilarang membunuh pemuka agama, dan penduduk yang tengah beribadah. Dilarang menghancurkan desa dan kota. Jika dilihat dari rambu-rambu ini, maka perang yang dilakukan bukanlah dalam arti penindasan, bahkan tawanan perang pun tidak disiksa, justru dalam Islam dirawat dengan baik. Hal ini bisa dilihat dari buku-buku sejarah. Bahkan Nabi Muhammad Saw. melarang untuk memaksa penduduk berpindah agama.

Kalau demikian untuk apa berperang? Inilah yang harus diketahui. Ketika suatu daerah ditaklukkan, setiap penduduk hanya mengakui bahwa pemerintahan Islam yang sedang memerintah. Secara kehidupan diberikan kebebasan yang setara. Namun kemudian komunitas muslim memberikan contoh dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Hingga pada akhirnya akhlaq muslim yang begitu mulia membuat para penduduk iri, dan ingin menjadi seperti umat muslim.

Oleh sebab itu Islam sangat cepat tersebar,  disebar dengan alasan sebagai pusat kebaikan. Bukan pusat penindasan. Inilah yang pada akhirnya perang dalam Islam disebut dengan pembebasan, karena dibebaskan untuk berbuat seperti sebelumnya, dan dibebaskan untuk memilih akan sikap yang harus dianutnya. Maka wajar begitu cepat Islam tersebar.

Pada periode Umar bin Khattab, umat Islam menguasai Yerussalem tanpa peperangan. Umat Islam justru menjadi penengah dalam pertikaian yang berlarut-larut antara sekte-sekte Kristen di Kanisah al-Qiyamah. Faktanya ketika mayoritas adalah muslim, non muslim merasa nyaman. Coba ketika dibalik, apakah kebebasan dalam beribadah masih bisa dipertahankan? Bolehkah berkerudung?

Mengapa Sejarah Islam Banyak Dihiasi Peperangan?

Posted by Dastan No comments

Sejarah Islam tidak bisa dimungkiri sangat banyak dihiasi dengan peperangan. Mulai dari zaman kenabian hingga pada zaman dinasti khalifah yang berhias dengan sejarah kalah dan menang dalam adu pedang. Persoalan yang sering ditanyakan adalah, bukankah Islam agama yang penuh kedamaian? Namun mengapa banyak perang. Oleh sebab itu harus dipahami betul bagaimana memaknai perang yang ada dalam sejarang Islam.

Terminologi yang sering dicocokkan dengan perang Islam adalah jihad. Padahal Jihad memiliki arti yang tidak terkungkung pada perang saja. Namun lebih kepada perjuangan dalam membela agama. Artinya jika berjuang dengan harta, juga disebut dengan jihad, namun jihad harta. Perang merupakan salah satu medan jihad, taruhannya adalah nyawa. Otomatis ketika berjuang membela Islam, maka yang diperjuangkan adalah kebaikan untuk agama Islam.  Sisi kebaikan dalam perang yang dilakukan oleh Islam sayangnya yang banyak dilupakan.

Islam berperang lebih banyak dilakukan oleh dorongan membela diri, bukan dalam bentuk menyerang. Sejarah awal Islam membuktikan bagaimana muslim disiksa oleh kaum kafir hingga nyawa harus merenggang, siapapun yang mengalaminya pasti akan balas dendam. Namun muslim tidak melakukan balas dendam individu, justru yang dilakukan adalah memerangi agar tidak kembali diganggu.

Buktinya tidak ada penyiksaan dalam Islam ketika berperang. Ada rambu-rambu unik yang harus dipatuhi ketika berperang dalam Islam. Di antaranya tidak boleh membunuh anak, perempuan, orang tua dan orang yang sedang sakit.  Dilarang membunuh pemuka agama, dan penduduk yang tengah beribadah. Dilarang menghancurkan desa dan kota. Jika dilihat dari rambu-rambu ini, maka perang yang dilakukan bukanlah dalam arti penindasan, bahkan tawanan perang pun tidak disiksa, justru dalam Islam dirawat dengan baik. Hal ini bisa dilihat dari buku-buku sejarah. Bahkan Nabi Muhammad Saw. melarang untuk memaksa penduduk berpindah agama.

Kalau demikian untuk apa berperang? Inilah yang harus diketahui. Ketika suatu daerah ditaklukkan, setiap penduduk hanya mengakui bahwa pemerintahan Islam yang sedang memerintah. Secara kehidupan diberikan kebebasan yang setara. Namun kemudian komunitas muslim memberikan contoh dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Hingga pada akhirnya akhlaq muslim yang begitu mulia membuat para penduduk iri, dan ingin menjadi seperti umat muslim.

Oleh sebab itu Islam sangat cepat tersebar,  disebar dengan alasan sebagai pusat kebaikan. Bukan pusat penindasan. Inilah yang pada akhirnya perang dalam Islam disebut dengan pembebasan, karena dibebaskan untuk berbuat seperti sebelumnya, dan dibebaskan untuk memilih akan sikap yang harus dianutnya. Maka wajar begitu cepat Islam tersebar.

Pada periode Umar bin Khattab, umat Islam menguasai Yerussalem tanpa peperangan. Umat Islam justru menjadi penengah dalam pertikaian yang berlarut-larut antara sekte-sekte Kristen di Kanisah al-Qiyamah. Faktanya ketika mayoritas adalah muslim, non muslim merasa nyaman. Coba ketika dibalik, apakah kebebasan dalam beribadah masih bisa dipertahankan? Bolehkah berkerudung?

back to top